Modifikasi kendaraan listrik kini tak lagi sebatas permainan pelek atau ubahan interior. Tampilan eksterior pun mulai menjadi ladang eksplorasi, termasuk penggunaan material karbon yang identik dengan mobil performa tinggi. Hal itu terlihat pada proyek modifikasi BYD Atto 1 yang digarap Bproject Carbon Kevlar, bengkel spesialis karbon yang bermarkas di Tangerang. Mobil listrik kompak ini tampil berbeda berkat sentuhan overfender karbon yang membuat tampilannya lebih agresif. Pemilik Bproject Carbon Kevlar, Boim, mengatakan bahwa proyek tersebut berawal dari permintaan konsumen yang ingin meningkatkan tampilan eksterior mobilnya. “Pada dasarnya, ini adalah keinginan dari customer untuk melakukan upgrade bagian eksterior, dan akhirnya tercetuslah ide untuk menggunakan carbon. Pemilik mobil mempercayakan kita untuk mengeksekusi miliknya,” kata Boim, kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026). Menariknya, proyek ini kemudian dikenal dengan sebutan "BYD Atto 1 rasa Huracan". Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Boim, wajah depan BYD Atto 1 memang memiliki kemiripan dengan Lamborghini Huracan, terutama dari sudut pandang desain fascia. “BYD Atto 1 memiliki wajah bagian depan yang serupa dengan Lamborghini Huracan, sehingga tercetus ide membuat konten dengan tema seperti itu. Kami juga ingin upgrade penampilan yang cukup bengis agar terlihat mirip Huracan, walaupun sebenarnya bagian fender-nya lebih mengarah ke Lamborghini Urus,” kata dia. Dari sisi pengerjaan, overfender karbon tersebut bukan menggantikan komponen bawaan pabrik. Boim menegaskan, sesuai permintaan konsumen, pihaknya hanya menambahkan part extension tanpa mengorbankan part asli mobil. “Beliau hanya ingin menambahkan part extension tanpa harus mengorbankan part aslinya,” ucap Boim. Soal material, Bproject tidak main-main. Setelah melalui proses desain dan pembuatan cetakan (moulding), part overfender dibuat menggunakan 100 persen serat karbon. “Kita menggunakan 100 persen carbon fiber dengan teknik carbon infusion,” kata Boim. Penggunaan karbon pada overfender ini, lanjut Boim, pada dasarnya lebih menonjolkan sisi estetika. Namun, jika diaplikasikan secara penuh menggantikan panel standar, maka karbon juga punya manfaat fungsional. “Kalau hanya tambahan, tentu untuk estetika. Tapi kalau di-replace full carbon, bisa masuk ke ranah fungsi karena ada pengurangan bobot di bagian fender,” ujarnya. Bagi konsumen yang tertarik melakukan modifikasi serupa, biaya yang perlu disiapkan pun tidak sedikit. Boim menyebut, untuk part extension full carbon dengan metode infusion, estimasi biayanya berada di kisaran Rp 60 juta hingga Rp 70 juta dengan waktu pengerjaan satu sampai dua bulan. Namun, tersedia juga opsi yang lebih terjangkau bagi konsumen yang hanya mengejar tampilan visual. “Kalau hanya mengincar nilai estetika, kita punya alternatif carbon skinning dengan estimasi budget sekitar Rp 25 juta sampai Rp 30 jutaan,” kata Boim. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang