Pemerintah Jepang berupaya melakukan berbagai cara untuk menahan gempuran mobil listrik buatan China. Salah satunya adalah dengan memangkas insentif buat mobil listrik impor. Hal ini pun langsung dirasakan oleh BYD yang gencar meluncurkan mobil listrik di negeri matahari terbit.Penjualan kendaraan listrik di Jepang memang masih kecil, hanya menyumbang kurang dari 2% penjualan mobil baru di Jepang, tetapi hal itu tidak menghentikan raksasa kendaraan listrik China, BYD, untuk meluncurkan kei car listrik di Jepang, akhir tahun lalu. Tapi baru-baru ini produk kei car listrik BYD tersebut baru saja dapat 'pukulan'. Seperti dikutip dari Carscoops, terungkap bahwa pemerintah Jepang telah memangkas subsidi untuk BYD lebih dari setengahnya, menguranginya menjadi hanya 150.000 yen (Rp 15,9 juta). Sebelumnya, insentif untuk BYD berkisar antara 350.000 yen (Rp 37,3 juta) dan 400.000 yen (Rp 42,6 juta).Alasannya cukup sederhana, Jepang sedang merevisi skema insentif kendaraan listriknya untuk menguntungkan kendaraan yang menggunakan paket baterai buatan lokal.Sementara itu mobil BYD menggunakan baterai buatan China. Artinya, ini merupakan langkah Jepang untuk melindungi industri otomotif mereka dari serbuan merek China yang sedang berkembang pesat.Beberapa model mobil listrik impor yang sudah menggunakan baterai buatan lokal terbukti mendapatkan insentif atau subsidi besar. Subsidi mobil listrik Tesla contoh, naik sebesar 400.000 yen (Rp 42,6 juta) menjadi 1,27 juta yen (Rp 135,3 juta) karena menggunakan baterai Panasonic.Audi juga mengalami peningkatan subsidi baru-baru ini sebesar 320.000 yen (Rp 34,1 juta) hingga sedikit di atas 1 juta yen (Rp 106 juta) untuk mobil listriknya. Demikian pula subsidi untuk beberapa kendaraan listrik Hyundai telah ditingkatkan bulan ini.Seperti diberitakan Nikkei Asia, tidak semua peningkatan subsidi ini akan tetap berlaku. Ke depan, subsidi untuk merek-merek termasuk Audi dan Hyundai akan dipotong, meskipun besarnya pemotongan tersebut masih belum jelas.Sementara itu BYD disebut-sebut berada dalam posisi yang kurang menguntungkan di pasar Jepang. Bahkan sebelum adanya pemangkasan subsidi."Kami berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan," kata kepala unit BYD Jepang Atsuki Tofukuji. "Selisih harga (dengan perusahaan seperti Toyota Motor) telah meningkat hingga hampir 1 juta yen. Kami tidak bisa bersaing dengan harga (subsidi) 350.000 yen," bilangnya.