Keberadaan jalan tol atau jalan bebas hambatan di Indonesia sangat membantu pengguna jalan untuk menjangkau destinasi dengan lebih cepat. Kendati demikian, tingkat kesadaran keselamatan berkendara di jalan tol dinilai masih sangat rendah. Tak sedikit pengemudi yang menyamakan karakter jalan tol dengan jalan umum biasa. Salah satu contoh perilaku ekstrem yang kerap dijumpai adalah mundur atau memutar balik melawan arah di exit tol akibat salah jalan atau terjebak kemacetan. Pelanggaran Berat Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu menegaskan bahwa dari perspektif keselamatan maupun hukum, aksi melawan arah di exit tol jelas merupakan pelanggaran berat dan sangat berbahaya. Sebuah mobil sedan berwarna abu-abu terekam kamera dashcam warga memasuki Tol Dalam Kota melalui exit Tebet sembari melawan arah, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2026) “Ini sudah jelas, dari perspektif keselamatan, hukum, tidak benar dan berbahaya. Mereka seharusnya kena sanksi,” ujar Jusri kepada Kompas.com, Minggu (13/9/2026). Jusri menjelaskan bahwa area keluar tol dirancang khusus sebagai jalur pengurangan kecepatan kendaraan sebelum memasuki jalan arteri. “Bayangkan seseorang sedang deselerasi dari kecepatan yang tinggi, mereka perlu jarak perlambatan. Bahaya sekali ini (kalau bertemu mobil lawan arah), ini lah kesadaran tentang keselamatan rendah sekali,” kata dia. Memicu Tabrakan Fatal Risiko berbahaya dari aksi nekat ini tidak hanya berhenti di area lajur keluar. Ketika pengemudi memutuskan untuk memutar balik demi kembali ke badan jalan tol, mereka secara langsung memotong arus lalu lintas utama. “Sama saja dia contraflow. Bayangkan begitu dia keluar dari exit itu, masuk ke badan jalan tol, itu kan dia potong jalan lagi. Potong jalan orang yang high speed di lajur satu, untuk kendaraan-kendaraan truk atau apa. Bahaya sekali, miris,” kata Jusri. Menurutnya, jika aksi nekat tersebut selama ini tidak menimbulkan musibah, hal itu semata-mata karena faktor keberuntungan, bukan berarti tindakan tersebut aman dilakukan. “Dengan adanya tindakan semacam itu, kemungkinan terjadi tabrakan itu besar sekali. Kalau faktanya tidak ada tabrakan, itu adalah keberuntungan semata. Jadi tidak patut dicontoh, jangan jadi referensi, membiasakan perilaku tadi kalau terjebak kemacetan di pintu exit tol,” ucapnya.