Pemerintah RI mengajak perusahaan-perusahaan asal China untuk terus memperluas investasinya di Indonesia, terutama pada sektor yang memiliki nilai tambah tinggi, termasuk industri otomotif. Ajakan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan delegasi bisnis China di Jakarta, Kamis (23/7/2026). "Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang bisnis pemusaha dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi," ujar dia dalam keterangannya. Fasilitas pabrik Chery di Wuhu, China BYD dan Chery Jadi Contoh Menurut dia, industri otomotif menjadi salah satu sektor yang menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah merek asal China seperti BYD dan Chery bahkan berhasil masuk dalam jajaran lima besar merek mobil dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia. Selain manufaktur kendaraan, pemerintah juga membuka peluang investasi pada sektor ekonomi digital, mulai dari industri semikonduktor, pembangunan jaringan serat optik, pengembangan aplikasi digital, hingga infrastruktur pusat data (data center). Untuk mendukung masuknya investasi baru, pemerintah menyiapkan sejumlah insentif fiskal, di antaranya tax holiday, tax allowance, investment allowance, serta super tax deduction bagi investasi yang memenuhi persyaratan. Iklim investasi masih kompetitif Airlangga mengatakan prospek investasi di Indonesia masih menarik bagi investor asing. Ia mengutip hasil survei Japan External Trade Organization (JETRO) yang menunjukkan sekitar 70 persen perusahaan asing memperoleh keuntungan setelah menanamkan modal di Indonesia. "Laporan dari perusahaan agensi Jepang, JETRO, menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mengalami atau mendapat keuntungan besarnya 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung," jelas Airlangga. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa iklim investasi Indonesia masih kompetitif. Booth BYD di GJAW 2025 Hubungan ekonomi Indonesia dan China juga terus berkembang. Kedua negara telah terikat dalam sejumlah perjanjian perdagangan, seperti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Berdasarkan data Indonesia, nilai perdagangan bilateral kedua negara telah mencapai sekitar 154 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.500 triliun. Sementara itu, data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi dari Hong Kong dan China ke Indonesia pada semester I/2026 mencapai sekitar 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 163 triliun. Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga berdiskusi dengan pelaku usaha China dan Indonesia dari berbagai sektor, mulai dari tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik, kawasan industri, energi terbarukan, hingga pendidikan. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan hubungan ekonomi Indonesia dan China terus berkembang, tak hanya di sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga industri, pendidikan, ekonomi digital, serta teknologi. "Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi," tambahnya.