Waymo, divisi kendaraan otonom milik Alphabet, kembali memperluas jangkauan layanannya di Amerika Serikat (AS). Dikutip dari CNET, teknologi self-driving Waymo kini mulai beroperasi di empat kota baru, yakni Baltimore, Pittsburgh, St. Louis, dan Philadelphia. Mantan CEO Waymo, John Krafcik Pengujian di Baltimore, Pittsburgh, dan St. Louis dimulai dengan mode pengemudian manual sebelum secara bertahap beralih ke otonom penuh setelah tahap validasi keselamatan. Sementara itu, Philadelphia sudah memasuki fase pengoperasian otonom dengan kehadiran spesialis keselamatan yang tetap berada di balik kemudi sebagai monitor. Uji coba ini dilakukan di wilayah dengan kompleksitas lalu lintas tinggi, termasuk pusat kota dan akses jalan bebas hambatan. Saat ini, layanan robotaxi Waymo telah tersedia secara penuh untuk publik di Phoenix, San Francisco, Los Angeles, Atlanta, dan Austin, menggunakan armada Jaguar I-Pace listrik. Pemesanan dapat dilakukan melalui aplikasi Waymo atau Uber, bergantung pada kota operasional. Sejak November 2025, penumpang juga dapat menggunakan layanan robotaxi di jalan tol di tiga kota besar, yaitu San Francisco, Phoenix, dan Los Angeles. Ekspansi Waymo tidak hanya terjadi pada wilayah operasional, tetapi juga pada kapasitas produksi. Perusahaan tengah membangun pabrik kendaraan otonom seluas 239.000 kaki persegi di Phoenix untuk menambah hingga 2.000 unit Jaguar I-Pace ke armada yang kini berjumlah 1.500 kendaraan. Fasilitas baru tersebut dirancang fleksibel agar dapat mengintegrasikan teknologi Waymo Driver generasi keenam, termasuk pada model baru seperti Zeekr RT. Cruise AV, robotaxi alias taksi dengan teknologi otonom Waymo juga memperluas kolaborasi dengan Hyundai untuk pengembangan Ioniq 5 otonom serta menjajaki kemitraan bersama Toyota untuk implementasi teknologi tanpa sopir pada kendaraan penumpang masa depan. Hingga kini, Waymo mengeklaim telah menempuh lebih dari 100 juta mil otonom di jalan raya publik dan melayani lebih dari 10 juta perjalanan berbayar. Berdasarkan laporan keselamatan internal, Waymo Driver tercatat menghasilkan 88 persen lebih sedikit kecelakaan serius dibanding pengemudi manusia, serta menurunkan risiko kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki hingga 93 persen. Robotaxi Mulai Masuk Asia Tenggara Fenomena taksi tanpa sopir bukan lagi monopoli Amerika dan China. uji coba bus self-driving di jalanan Zhengzhou. Teknologi otonom kini bergerak masuk ke Asia Tenggara, terutama Singapura. Reuters melaporkan, May Mobility, perusahaan mobil otonom asal AS, resmi mendapatkan investasi dari Grab. Langkah tersebut membuka pintu bagi integrasi layanan robotaxi ke dalam sistem transportasi Grab. Jika uji coba berjalan lancar di Singapura, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi target ekspansi selanjutnya. Grab juga baru-baru ini menggelontorkan investasi 60 juta dollar AS (sekitar Rp 1 triliun) ke perusahaan remote-driving Vay Technology. Apabila target teknis terpenuhi, nilai investasi tersebut berpeluang meningkat hingga 350 juta dollar AS dalam tahun pertama. CEO Grab, Anthony Tan, menilai masa depan transportasi Asia Tenggara akan bergerak menuju model campuran antara kendaraan otonom dan pengemudi manusia. Vay sendiri mengusung konsep teledriver, yakni kendaraan dikendalikan dari jarak jauh oleh operator hingga tiba di penumpang, kemudian pengguna dapat mengemudi sendiri. Model ini telah diuji di Las Vegas sejak 2024. Ekspansi robotaxi dan investasi besar-besaran di sektor kendaraan otonom menunjukkan satu hal, yakni disrupsi transportasi tinggal menunggu waktu, bukan lagi sekadar konsep futuristik. Driver online mungkin tidak akan hilang dalam waktu dekat, namun landscape industri jelas mulai berubah. Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah kendaraan tanpa sopir akan masuk Indonesia, melainkan seberapa siap kita saat itu terjadi? Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang