Wacana pemerintah untuk menerapkan aturan truk anti-obesitas alias Zero Over Dimension Over Load (ODOL) mendapat tanggapan dari komunitas truk. Toni Abdul Ghani, Korda Jabar-Banten Canter Mania Indonesia Community (CMIC), mengatakan bahwa aturan Zero ODOL terkendala karena penerapan regulasi di tiap daerah masih berbeda-beda. "Jadi ada aturan mungkin Zero ODOL, sebenarnya saya juga belum mengerti karena belum rata," ujar Toni yang ditemui di Purwakarta, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC) digelar selama dua hari pada 22?23 November 2025, di Purwokerto. Contohnya, kata Toni, saat ia menjadi juri kontes kecantikan truk di Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC), banyak aturan truk yang tidak seragam. "Kami ada kontes, kami lihat kan. Di sebelah sini, provinsi misalkan Jawa, aturannya gini, kota ini. Nah kemudian di Sumatera. Kalau di Jawa, di Pulau Jawa ini nggak bisa," ujar Toni. "Jadi sebenarnya, kalau menurut saya, mau dibikin aturan juga, tetap sih masih belum bisa diterapkan di Indonesia. Jadi masih, gimana ya, nggak tahu tuh jadi ada sebagian tempat yang di sini masih bebas, di sini udah nggak bebas," katanya. Ilustrasi kendaraan ODOL. Toni menjelaskan bahwa yang harus diketahui adalah sebetulnya tidak semua sopir atau pemilik truk ingin membuat kendaraannya menjadi ODOL karena risikonya besar. "Lebih ke arah situ. Tapi, kesitu taruhannya besar. Di jalan itu yang namanya di jalan, kadang-kadang ada kendala. Nyawa banget. Ya, istilahnya amit-amit dia harus sampai ke jalan (bermasalah)," katanya. "Sebenarnya kalau kemauan saya sama teman-teman, ya itu muatan ringan, muatan bagus. Walaupun susah gitu," ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.