Insentif otomotif berbasis kandungan lokal berpotensi memberikan lonjakan dampak ekonomi yang signifikan. Simulasi menunjukkan kebijakan seperti itu mampu menambah produk domestik bruto (PDB) hingga Rp 21 triliun dan menciptakan lebih dari 34.000 lapangan kerja pada 2030. Temuan tersebut disampaikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) berdasarkan kajian dampak insentif lokalisasi komponen otomotif. Produsen otomotif China, BYD, berhasil menyalip Tesla sebagai penjual mobil listrik terbesar dunia pada 2025. Penjualan BYD naik signifikan, sementara pengiriman Tesla kembali menurun. Peneliti Senior LPEM FEB UI, Riyanto, menyatakan hasil tersebut lebih kuat dibanding skenario baseline yang mengacu pada PMK No.12/2025 tentang PPN Atas Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Roda Empat Tertentu dan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Bus Tertentu Serta PPnBM Yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2025. “Relatif terhadap kondisi bisnis seperti biasa, insentif berbasis lokalisasi menunjukkan tambahan PDB sekitar Rp 4 triliun pada 2026 dan meningkat hingga Rp 21 triliun pada 2030,” ujar Riyanto dalam Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026). Efek langsung ke pasar otomotif Tambahan stimulus tersebut berdampak langsung pada pasar kendaraan. Penjualan mobil nasional diproyeksikan kembali meningkat setelah mengalami tekanan pada 2025. Dalam simulasi LPEM FEB UI, total penjualan mobil pada skenario pipeline akan berfluktuasi dari sekitar 850.000 unit pada 2025, sebelum kembali meningkat hingga sekitar 1,32 juta unit pada 2030. Kenaikan ini terutama dipicu oleh turunnya harga kendaraan yang memperoleh insentif karena penggunaan komponen lokal. Ketika insentif berbasis lokalisasi komponen diterapkan, total volume penjualan secara agregat relatif tidak berubah signifikan. Namun, penurunan harga kendaraan yang memenuhi syarat insentif menciptakan pergeseran komposisi penjualan antar-teknologi, terutama ke segmen kendaraan elektrifikasi, khususnya hybrid electric vehicle (HEV). Penelitian LPEM FEB UI Menurut Riyanto, insentif berbasis kandungan lokal bekerja langsung pada sisi harga mobil, sehingga meningkatkan keterjangkauan mobil baru di tengah daya beli masyarakat yang masih terbatas, sekaligus memengaruhi preferensi konsumen dalam memilih teknologi kendaraan. Struktur pasar bergeser Dari sisi struktur pasar, kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih menjadi tulang punggung penjualan nasional hingga akhir dekade. Pada skenario baseline, pangsa pasar ICE diproyeksikan turun dari sekitar 98 persen pada 2022 menjadi sekitar 75 persen pada 2030, atau setara dengan sekitar 989.000 unit. Sebaliknya, kendaraan elektrifikasi (xEV) menunjukkan peningkatan peran yang konsisten. Dalam skenario serupa, gabungan battery electric vehicle (BEV), HEV, dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) diperkirakan menguasai sekitar 25 persen pasar pada 2030. Kontribusi terbesar berasal dari HEV yang meningkat dari sekitar 10.000 unit pada 2022 menjadi sekitar 168.000 unit pada 2030 (sekitar 12,8 persen pangsa pasar), diikuti BEV sekitar 150.000 unit (11,4 persen) dan PHEV dengan kontribusi relatif kecil, kurang dari 1 persen. Ilustrasi penjualan mobil Ketika insentif berbasis kandungan lokal diterapkan, pergeseran struktur pasar menjadi lebih kuat. Pangsa pasar kendaraan elektrifikasi meningkat hingga sekitar 27,4 persen pada 2030, dengan HEV menjadi penerima manfaat terbesar. Penjualan HEV diproyeksikan melonjak hingga sekitar 210.000 unit atau hampir 16 persen dari total pasar, didorong oleh peralihan konsumen dari kendaraan ICE, serta sebagian dari BEV dan PHEV, akibat penurunan harga HEV yang lebih signifikan. “Penurunan harga karena insentif mendorong perpindahan dari kendaraan konvensional ke kendaraan elektrifikasi, terutama hybrid, yang dianggap lebih terjangkau dan sesuai dengan kondisi pasar saat ini,” ujar Riyanto. Penguatan industri dan rantai pasok Signifikansi kebijakan ini paling terasa pada sisi industri. Peningkatan penjualan kendaraan yang memenuhi syarat lokalisasi mendorong pendalaman rantai pasok domestik. Kebijakan berbasis kandungan lokal memungkinkan transisi teknologi berlangsung tanpa mengorbankan fondasi industri otomotif nasional. Output industri otomotif diperkirakan meningkat sekitar 2,1 persen pada 2026 dibandingkan skenario tanpa insentif. Pada 2030, kenaikan output diproyeksikan mencapai sekitar 7,4 persen. Ekspansi produksi tersebut berimplikasi langsung pada penyerapan tenaga kerja. LPEM FEB UI memproyeksikan tambahan lapangan kerja sekitar 9.200 orang pada 2026 dan meningkat menjadi lebih dari 34.000 orang pada 2030. Peningkatan ini mencerminkan bertambahnya aktivitas manufaktur, termasuk produksi komponen bernilai tambah di dalam negeri. Dampak fiskal dan lingkungan Dari sisi fiskal, insentif berbasis lokalisasi memang menurunkan penerimaan negara pada beberapa tahun akhir periode proyeksi. Pada 2028 hingga 2030, penurunan penerimaan diperkirakan berkisar antara Rp 190 miliar hingga Rp 736 miliar. Nilai tersebut dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan tambahan PDB yang dihasilkan dalam periode yang sama. Selain itu, pergeseran ke kendaraan yang lebih efisien turut menekan emisi gas rumah kaca dan konsumsi bahan bakar. Meski penurunan emisi tidak bersifat drastis, biaya ekonomi yang diperlukan untuk menurunkan emisi dinilai lebih efisien melalui pendekatan ini. “Manfaat ekonomi yang dihasilkan lebih besar dibandingkan pengorbanan fiskalnya,” ujar Riyanto. Ia menambahkan, kebijakan berbasis kandungan lokal memungkinkan transisi teknologi berlangsung tanpa mengorbankan fondasi industri otomotif nasional. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang