Mobil Plug-in hybrid (PHEV) selama ini dipromosikan sebagai jembatan menuju mobil listrik. Kombinasi baterai dan mesin bensin diklaim menjadi solusi realistis sebelum beralih penuh ke EV. Namun studi terbaru mengungkap fakta yang berlawanan.Penelitian dari Fraunhofer Institute, Jerman, menemukan konsumsi BBM mobil plug-in hybrid di dunia nyata jauh lebih boros dibandingkan klaim pabrikan. Bukan hanya tipis, perbedaannya tembus 300 persen lebih! Disitat dari ArenaEV, Rabu (25/2), dalam pengujian resmi di Eropa menggunakan standar Worldwide Harmonized Light Vehicles Test Procedure (WLTP), rata-rata PHEV diklaim hanya memerlukan 1,57 liter per 100 km. Angka itu setara 150 mpg, terdengar sangat irit.Casan di mobil PHEV. Foto: Dok. Toyota GlobalNamun, setelah menganalisis data 981.035 unit PHEV di berbagai negara Eropa, hasilnya jauh berbeda. Konsumsi rata-rata di jalan mencapai 6,12 liter per 100 km. Artinya, hampir 3,9 kali lebih boros dari klaim pabrikan-pabrikan.Secara teori, PHEV akan mengutamakan tenaga listrik lewat mode charge-depleting. Namun, dalam praktiknya, mesin bensin ternyata sering ikut bekerja. Saat akselerasi, menyalakan pemanas kabin, atau ketika baterai menipis, mesin langsung aktif. Bahkan dalam mode yang seharusnya lebih bersih, konsumsi masih menyentuh 2,98 liter per 100 km, hampir dua kali lipat dari ekspektasi regulator.[Gambas:Youtube]Studi terkait juga menemukan pola menarik soal kebiasaan ngecas. Pemilik merek premium seperti Porsche, Bentley, dan Ferrari justru jarang mengisi daya mobilnya. Khusus Porsche, rata-rata mobil hanya menghasilkan 7 kWh listrik dalam jarak 27.000 km.Mobil bensin, dalam kondisi nyata, biasanya juga lebih boros sekitar 20 persen dibandingkan klaim pabrikan. Namun, selisih 300 persen jelas bukan angka kecil. Regulator Eropa kini berencana memperketat aturan dan mengubah perhitungan agar angka resmi lebih mendekati kondisi nyata mulai tahun depan.