Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh Rp 17.424 per dolar AS diperkirakan memberi dampak terhadap industri pembiayaan kendaraan bermotor. Kondisi tersebut berpotensi menekan minat masyarakat membeli kendaraan baru, terutama model yang masih bergantung pada komponen impor. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan, fluktuasi kurs dapat memicu penyesuaian harga kendaraan yang akhirnya memengaruhi permintaan kredit otomotif. Ilustrasi kredit kendaraan. “Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan pada perusahaan pembiayaan, terutama melalui penyesuaian harga kendaraan yang memiliki komponen impor,” ujar Agusman dalam keterangan tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Kamis (7/5/2026). Naiknya harga kendaraan dinilai membuat cicilan kredit ikut meningkat. Situasi ini dapat memengaruhi kemampuan masyarakat dalam mengambil pembiayaan baru. Tak hanya dari sisi permintaan, tekanan kurs juga dinilai berpengaruh terhadap profil risiko perusahaan pembiayaan. Karena itu, OJK meminta pelaku multifinance memperkuat strategi mitigasi agar kualitas pembiayaan tetap terjaga. Agusman menilai, perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajemen risiko dan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit. “Perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan,” kata Agusman. Ilustrasi penjualan mobil Ia menambahkan, pelemahan rupiah juga dapat berdampak terhadap kemampuan bayar debitur. Oleh sebab itu, perusahaan pembiayaan diminta meningkatkan monitoring serta langkah mitigasi risiko untuk mengantisipasi potensi kredit bermasalah. Di tengah kondisi tersebut, perusahaan multifinance diperkirakan bakal lebih selektif dalam menyalurkan kredit kendaraan demi menjaga kualitas portofolio tetap sehat. Langkah selektif itu dilakukan untuk menekan potensi non-performing financing (NPF) sekaligus menjaga stabilitas industri pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang