— Efisiensi bahan bakar dan karakter berkendara yang halus membuat mobil hybrid semakin populer. Namun, di pasar kendaraan bekas, jenis ini justru membutuhkan perhatian ekstra karena struktur komponennya jauh lebih kompleks dibandingkan mobil bermesin bensin murni. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, sejumlah komponen utama mobil hybrid memiliki risiko lebih tinggi ketika dibeli dalam kondisi bekas. “Mobil hybrid memang lebih berisiko saat dibeli bekas, terutama kalau pembeli tidak mengetahui kondisi komponen dan harga suku cadangnya,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (16/11/2025). Salah satu yang ia soroti adalah cara kerja mesin hybrid yang hidup dan mati secara otomatis. Pada kondisi tertentu, oli belum sempat bersirkulasi ketika mesin kembali menyala, sehingga komponen internal dapat mengalami keausan dini. “Pemilik sebelumnya mungkin tidak sadar bahwa oli harus tetap dalam kondisi optimal, karena mesin bisa hidup dan mati tanpa kontrol pengemudi,” kata Lung Lung. Komponen lain yang menjadi pusat perhatian adalah baterai hybrid karena harganya yang jauh lebih tinggi dibandingkan komponen mobil konvensional. Sel baterai mobil hybrid Toyota. Ia mencontohkan harga baterai baru Toyota Camry Hybrid yang bisa mencapai sekitar Rp 68 juta, belum termasuk biaya pemasangan. “Baterai adalah komponen paling mahal. Jika garansi sudah habis, biaya penggantiannya bisa sangat besar,” ujarnya. Kelistrikan juga perlu pemeriksaan menyeluruh. Mulai dari tegangan saat mesin mengisi baterai, performa motor listrik, hingga data kesehatan baterai melalui pemindaian OBD. “Semua output kelistrikan bisa dicek melalui OBD. Di situ terlihat kondisi baterai, proses pengisian, dan sisa tenaganya,” katanya. Rangkaian risiko tersebut diperparah oleh fakta bahwa layanan perbaikan hybrid di luar bengkel resmi masih sangat terbatas. Menurutnya, sebagian besar bengkel independen belum memiliki peralatan maupun akses teknologi yang memadai untuk menangani kerusakan hybrid. “Sampai sekarang, perawatan hybrid yang benar-benar aman masih di bengkel resmi karena teknologinya belum banyak dipegang bengkel umum,” ucap Lung Lung. Karena itu, ia menegaskan bahwa pembeli hybrid bekas harus memastikan mobil memiliki rekam servis resmi yang lengkap dan kondisi baterai yang terverifikasi. “Harga baterai baru biasanya menjadi dasar untuk menawar harga mobil hybrid bekas. Itu memang harus menjadi pertimbangan utama,” tuturnya. Dengan berbagai risiko tersebut, Lung Lung menilai bahwa mobil hybrid tetap menarik berkat efisiensinya, namun tanpa pemeriksaan teliti, keuntungan itu bisa berubah menjadi biaya tambahan besar di kemudian hari. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.