Pelek mobil penyok atau peang menjadi salah satu masalah yang cukup sering dialami pemilik kendaraan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan berkendara, tetapi juga bisa berdampak pada kestabilan mobil. Banyak orang mengira pelek penyok hanya terjadi karena menghantam lubang besar. Toko dan servis pelek mobil HWS Wheel Padahal, ada faktor lain yang ikut berperan, terutama saat mobil digunakan dalam perjalanan jauh. Runang dari HWS Wheel, Car Part & Accessories di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa suhu pelek saat digunakan juga memengaruhi risiko kerusakan. “Penyok, ya. Jadi ketika kita berkendara, apalagi dengan jarak yang sudah cukup jauh, putaran dan gesekan pasti menghasilkan panas," ujar Runang kepada Kompas.com, belum lama ini. "Saat pelek sudah mulai hangat atau panas karena pemakaian, lalu tiba-tiba menghantam lubang, tonjolan, polisi tidur, atau sesuatu yang tidak sempat kita hindari atau rem, pelek seperti ‘dikagetkan’," katanya. “Karena kondisinya sudah hangat atau panas akibat penggunaan, ketika terkena benturan mendadak, bisa saja menjadi peyang. Sebab, ada efek panas di situ,” ujar Runang. Mobil Toyota Avanza warna perak melawan arah di dalam Jalan Tol Kunciran-Cengkareng pada Sabtu (3/1/2026) pagi. Panas Berpengaruh? Runang menjelaskan, saat mobil melaju, roda terus berputar dan bergesekan dengan aspal. Proses ini menimbulkan panas, terutama setelah perjalanan cukup jauh atau saat mobil dipacu dalam kecepatan tinggi. Ketika pelek yang sudah panas menghantam lubang atau permukaan jalan yang keras secara tiba-tiba, struktur logamnya lebih rentan berubah bentuk. Pelek mobil Ibarat logam yang dipanaskan, daya tahannya bisa sedikit menurun dibanding saat kondisi dingin. Jika benturan cukup keras, pelek bisa langsung penyok atau berubah bentuk (peyang). Dampaknya, mobil bisa terasa bergetar saat melaju, setir tidak stabil, hingga ban haus tidak merata. Beberapa penyebab umum yang bikin pelek penyok adalah: Menghantam lubang dalam kecepatan tinggi. Sering naik-turun trotoar atau polisi tidur dengan kasar. Tekanan udara ban kurang sehingga beban langsung diterima pelek. Menggunakan ban profil tipis yang membuat perlindungan terhadap pelek lebih minim. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang