Bagi para pemilik mobil di kawasan Jakarta dan sekitarnya, Pasar Mobil Kemayoran (PMK) sudah lama menjadi salah satu sentra favorit untuk berburu sparepart maupun melakukan modifikasi kendaraan. Namun, sejak pandemi COVID-19 merebak, tren belanja masyarakat bergeser ke platform digital. Kebiasaan membeli suku cadang secara online tersebut terbawa hingga sekarang, membuat kondisi Pasar Mobil Kemayoran tidak seramai dulu. Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar Gempuran pasar online ini pun menghadirkan dilema tersendiri bagi para pedagang. Sebagian memilih tetap bertahan berjualan secara offline demi menjaga kualitas barang, sementara lainnya terpaksa ikut terjun ke ranah online meski harus menghadapi persaingan harga yang kian tidak sehat. Rekondisi Berkedok Orisinal Juned, pemilik bengkel Auto Service spesialis kaki-kaki di Pasar Mobil Kemayoran, mengingatkan para pemilik mobil agar tidak mudah tergiur harga murah di toko online. Sebab, banyak komponen vital seperti tie rod yang dijual online ternyata merupakan barang servisan atau rekondisi. “Asal jangan banyak orang beli online. Itu barang seperti tie rod, barang servisan. Belanja online, dipasang, enggak tahunya seminggu copot. Kejadiannya banyak, sampai patah,” ujar Juned saat ditemui Kompas.com, Selasa (22/9/2026). Ia menambahkan, oknum penjual nakal kerap memanipulasi kemasan hingga kode barang agar terlihat seperti suku cadang asli pabrikan. “Dia pakai bungkus Toyota, ternyata itu bisa dibikin, kode-kode barangnya juga. Dia bilang ori, padahal barang servisan,” kata Juned. Perbedaan harganya pun terbilang sangat tidak masuk akal. Juned mencontohkan, long tie rod orisinal untuk Toyota Camry dibanderol sekitar Rp 850.000, dengan harga diskon di tokonya jadi Rp 750.000. Sementara di toko online, barang serupa bisa dijual dengan harga hanya Rp 125.000 hingga Rp 150.000. Mendeteksi kerusakan kaki-kaki mobil lewat bunyi Komponen lain seperti karet stabilizer juga kerap diakali dengan hanya dipres ulang, sehingga mudah lepas dan merusak sistem kemudi. Akibat risiko tinggi tersebut, pihak bengkel menolak memberikan garansi jika konsumen membawa sendiri sparepart dari toko online. “Saya yang orang toko cuma bisa bantu pasang, tapi kalau kenapa-kenapa dari bengkel tidak tanggung jawab. Pernah ada konsumen, dia patah, enggak bisa belok. Itu akibat beli di online,” kata Juned. Perang Harga dan Komisi Mencekik Toko sparepart di Pasar Mobil Kemayoran Selain isu barang palsu, persaingan di platform e-commerce juga dirasakan makin berat oleh pedagang yang mencoba merambah toko online. Hery dari toko Persatuan Motor, spesialis suku cadang Hyundai dan Kia di Pasar Mobil Kemayoran, menyebutkan bahwa perubahan pola belanja konsumen memaksa pedagang beradaptasi, meski margin keuntungan terus tergerus. “Pola belanja orang berubah kan, banyak online. Sekarang online saja pasaran sudah hancur-hancuran, perang harga, potongannya makin sadis,” ungkap Hery. Toko sparepart di Pasar Mobil Kemayoran Menurut Hery, potongan biaya dari platform digital kini melonjak drastis dibanding saat awal tren berjualan online. “Dulu awal 5-6 persen, sekarang sampai 15 persen-20 persen. Mau naikkan harga enggak bisa, mau enggak mau tinggal kalahin margin. Tapi mau enggak mau kita jalanin,” pungkasnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun kemudahan dan iming-iming harga murah dari toko online sangat menggiurkan, konsumen dituntut untuk ekstra waspada saat membeli sparepart kendaraan. Membeli suku cadang langsung di pusat onderdil seperti Pasar Mobil Kemayoran tetap memiliki keunggulan tersendiri, yaitu jaminan keaslian barang, konsultasi teknis yang tepat, serta kepastian pemasangan oleh mekanik berpengalaman demi keselamatan berkendara.