Insiden kebakaran kembali menyelimuti Kompleks Pasar Mobil Kemayoran (PMK), Jakarta Pusat, pada Senin (21/9/2026) malam. Musibah kali ini menghanguskan empat kios yang terdiri dari bengkel, toko suku cadang spesialis Toyota, serta dua toko aksesori kendaraan. Kobaran api berhasil dilokalisasi sehingga hanya menimpa empat toko. Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar Jika dibandingkan dengan rekam jejak kebakaran di PMK pada 2008, 2011, hingga 2024 lalu, dampak musibah kali ini tergolong jauh lebih terkendali dari potensi kerusakan puluhan hingga ratusan kios. Lantas, bagaimana tanggapan serta langkah antisipasi dari para pemilik dan pekerja toko yang posisinya berada sangat dekat dengan titik kebakaran semalam? Pasrah dan Risiko Usaha Juned, pemilik bengkel Auto Service spesialis kaki-kaki yang berlokasi tepat di depan empat toko terbakar, mengaku hanya bisa pasrah menghadapi musibah berulang di kawasan tersebut. “Kalau sudah kebakaran mau diapakan lagi. Namanya kita usaha ada untung dan ruginya kan,” ujar Juned kepada Kompas.com, Senin (21/9/2026). Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar Juned menambahkan, sejauh ini memang belum ada langkah pencegahan khusus dari para pedagang. “Enggak ada (pencegahan), biasanya kalau sudah kebakaran nanti dibangun lagi, nanti diisi lagi. Kalau yang masuk asuransi, minta penggantian dari asuransi. Kalau yang enggak masuk, rugi sendiri saja,” kata Juned. Pertama Kali di Blok A Senada dengan Juned, Afon, pemilik toko Sumber Makmur spesialis suku cadang Toyota yang posisinya tepat di sebelah toko aksesori terbakar, menyebutkan bahwa insiden ini merupakan yang pertama untuk area Blok A. “Baru pertama kali kejadian di Blok A (kebakaran). Enggak ada (antisipasi) paling ya kita klaim ke asuransi,” ucap Afon kepada Kompas.com. Meski memiliki cakupan asuransi, Afon menegaskan bahwa dampak dari musibah kebakaran tetap sangat merugikan ritme bisnis para pedagang. “Cuma tetap kita kan enggak mau kejadian (kebakaran). Pasti klaim berbulan-bulan, tadinya kerja jadi enggak bisa kerja. Buat balik lagi (buka) juga tidak cepat,” kata Afon. Langkah Preventif Sementara itu, Hery, karyawan toko Persatuan Motor spesialis suku cadang Hyundai dan Kia yang lokasinya tepat membelakangi titik kebakaran, mengungkapkan rasa khawatirnya saat api mulai membesar. “Khawatir pasti khawatir. Ya langkah preventif sudah ada, kita matikan meteran. Tapi kadang kita hati-hati ternyata dari pusatnya juga (gardu),” kata Hery kepada Kompas.com. Kondisi toko yang terbakar di pasar mobil Kemayoran, Senin (21/9/2026) Kendati demikian, Hery memberikan apresiasi tinggi terhadap respons cepat Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) yang langsung menerjunkan puluhan armada ke lokasi. “Tapi hebat pemadamnya hebat. Cepat banget. Saya sampai di sini sudah ramai 22 kendaraan pemadam, apresiasi Damkar yang sekarang,” kata Hery. Hery menilai, dampak kebakaran kali ini tidak meluas karena jenis barang yang terbakar serta tata letak bangunan di Blok A yang masih memiliki jarak aman. “Zaman Blok S seblok, itu sudah susah karena kan dekat sama toko oli, thinner. Ini kan toko aksesori saja, kebakar saja. Terus ada selah juga antar-toko. Jadi enggak langsung samber (apinya),” ujar Hery. Respons para pedagang di sekitar lokasi kebakaran memperlihatkan kombinasi antara kepasrahan atas risiko usaha, ketergantungan pada klaim asuransi, hingga kesadaran akan pentingnya tindakan preventif mandiri seperti mematikan aliran listrik. Meski ketangkasan petugas pemadam kebakaran dan struktur antartoko berhasil mencegah penjalaran api yang lebih masif di Blok A, ancaman kebakaran berulang di pusat suku cadang ini tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar.