Kompleks Pasar Mobil Kemayoran (PMK), Jakarta Pusat, yang dulunya menjadi salah satu rujukan utama masyarakat untuk berburu suku cadang hingga melakukan modifikasi kendaraan, kini terpantau kian lengang. Penurunan aktivitas jual beli ini memicu keluhan dari para pemilik toko yang merasakan penurunan omzet secara drastis dalam beberapa waktu terakhir. Perbaikan Komponen Ikut Ditunda Juned, pemilik toko spesialis kaki-kaki Auto Service di PMK, mengungkapkan bahwa tren penurunan jumlah pengunjung sudah terasa makin memprihatinkan sejak satu tahun belakangan. Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar “Makin sepi, dari setahun yang lalu. Empat sampai lima mobil sehari (kalau tidak sepi). Pas sepi, tidak menentu,” ujar Juned kepada Kompas.com, Selasa (22/9/2026). Menurut Juned, kelesuan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional yang belum stabil. Ia menjelaskan, jika produk aksesori masih bisa ditunda pembeliannya, sektor perbaikan kaki-kaki sejatinya merupakan komponen vital keselamatan. Namun, saat ini konsumen justru cenderung membiarkan kerusakan tersebut. “Terasa banget penurunannya. Kalau aksesori memang bisa belakangan, tapi kaki-kaki kan penting. Oblak harus ganti, tapi ya masih sepi juga. Kadang orang bunyi-bunyi mobilnya, jadi enggak cek. Kalau enggak copot di jalan, baru dia telepon ke bengkel,” kata Juned. Dampak Berantai Kondisi Ekonomi Senada dengan Juned, Afon, pemilik toko suku cadang Sumber Makmur yang mengkhususkan diri pada kendaraan Toyota, turut mengakui adanya penurunan ritme bisnis di pasar tersebut. “Lagi agak menurun. Balik lagi ke keadaan, memang lagi sepi. Pasar sih, ekonomi,” tutur Afon singkat saat menggambarkan situasi pasar saat ini. Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar Dulu Ganti Baru, Sekarang Pilih Servis Sementara itu, Hery, penjaga toko Persatuan Motor spesialis suku cadang Hyundai dan Kia, menyoroti fluktuasi penjualan yang kini sangat tidak menentu jika dibandingkan dengan periode awal tahun 2000-an. “Turun pastinya. Lumayan berasa. Setidaknya sekarang relatif enggak stabil. Kalau dulu kan relatif stabil, naik dikit, turun dikit. Sekarang kalau naik, naik sekali, turun, turun banget, enggak tentu,” ucap Hery. Hery menilai, perubahan ini dipicu oleh lemahnya daya beli, hadirnya gempuran merek mobil Tiongkok, hingga masuknya era kendaraan listrik (electric vehicle). Kondisi ini secara langsung mengubah perilaku pemilik mobil dalam merawat kendaraan mereka. ilustrasi pusat onderdil di Pasar Mobil Kemayoran “Pasti ekonomi lah. Kalau dulu awal 2000-an rusak dikit ganti. Kalau sekarang orang tanya sparepart carinya ada yang seken enggak, ada yang lebih murah lagi enggak. Dulu enggak pusing, order, pesan. Sekarang bisa diservis enggak,” kata Hery. Seiring lesunya daya beli masyarakat, gempuran tren industri otomotif baru, serta perubahan pola konsumsi, pusat suku cadang legendaris seperti Pasar Mobil Kemayoran berada di persimpangan jalan. Bertahannya para pedagang kini tidak lagi sekadar mengandalkan kepopuleran kawasan, melainkan bagaimana beradaptasi menghadapi perilaku konsumen yang kian selektif dan hemat dalam merawat kendaraan.