Kemudahan bertransaksi secara digital membuat pasar online kini menjadi cara berburu suku cadang kendaraan. Cukup dari ponsel, suku cadang atau sparepart yang dibutuhkan bisa langsung dikirim ke rumah. Namun di balik kemudahan tersebut, marak beredar komponen yang kualitasnya tidak jelas. Banyak di antaranya disinyalir bukan barang baru dari pabrik, melainkan barang rekondisi atau hasil perbaikan yang dibungkus rapi sehingga tampak seperti suku cadang baru berlabel orisinil. Akibat penggunaan sparepart yang salah dan tidak jelas kualitasnya, masalah pada kendaraan bukannya teratasi, tetapi justru berisiko menjadi semakin parah. Toko di Pasar Mobil Kemayoran, lokasi yang berdekatan dengan toko yang terbakar Pengawasan Pedagang Offline dan Online Juned, pemilik toko Auto Service spesialis kaki-kaki di Pasar Mobil Kemayoran, mendesak pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan untuk menindak tegas serta memperketat pengawasan terhadap peredaran sparepart di platform online. Menurutnya, ada ketimpangan aturan yang dirasakan oleh para pedagang toko fisik dibanding para penjual di platform digital. “Pemerintah mesti tegas soal sparepart ini. Kalau ori ya ori. Jangan kita yang dagang di toko sparepart dikenai sanksi, tapi kalau online tidak dikenai sanksi,” ujar Juned saat ditemui Kompas.com, Selasa (22/9/2026). Juned menegaskan, bahwa toko fisik selalu transparan membedakan barang asli dan tiruan. Menurutnya, suku cadang imitasi yang dijual di toko fisik pun tetap merupakan produk baru keluaran pabrik, bukan komponen rusak yang dipoles ulang. “Kita di sini ori ya ori, imitasi ya imitasi. Kalau imitasi pun enggak barang servis, barang asli dari pabrik. Bukan barang rusak diservis,” kata dia. Ia kerap menemukan konsumen yang datang hanya untuk meminta jasa pemasangan barang yang dibeli secara online. Setelah diperiksa, kualitas komponen tersebut sangat mengkhawatirkan, seperti bushing arm yang hanya diganti karetnya saja padahal standar pabrikan harus diganti satu set bersama arm-nya. Toko sparepart di Pasar Mobil Kemayoran Beda Harga Jauh Perbedaan harga yang sangat drastis sering kali menjadi pemicu utama konsumen terjebak barang rekondisi. Juned mencontohkan suku cadang orisinil yang di toko dijual Rp 900.000, di toko online bisa ditemukan hanya seharga Rp 200.000. Kondisi ini membuat pedagang toko fisik merasa miris, terlebih lagi dampak buruknya menyangkut keselamatan nyawa pemilik kendaraan. “Banyak kejadian, patah, copot, tabrakan gara-gara kampas rem. Dia beli kampasnya online, saya pasang aja. Kalau beli di saya, ada garansinya. Kalau beli online, itu risiko sendiri,” kata Juned. Toko sparepart di Pasar Mobil Kemayoran Jangan Tergiur Hemat Menyikapi maraknya fenomena ini, para pemilik kendaraan sangat diimbau untuk tidak sekadar tergiur harga murah saat berbelanja sparepart secara online. Niat menghemat biaya perawatan bisa berujung kerugian besar hingga mengancam keselamatan jika suku cadang yang dibeli ternyata berkualitas buruk. Terlebih untuk sektor kaki-kaki dan sistem pengereman, kualitas komponen bersifat krusial karena memegang kendali penuh atas stabilitas kendaraan serta keselamatan pengemudi dan penumpang di jalan raya.