Aksi penipuan jual-beli komponen otomotif di ruang digital kini semakin marak dan kian meresahkan para calon pembeli. Modus penipuan tersebut beragam, mulai dari penyebaran video editan beriming-iming harga murah hingga kemunculan akun toko fiktif. Kondisi meresahkan ini menuntut para pedagang di sentra pelek tradisional kawasan Cideng, Jakarta Pusat, untuk memutar otak demi menjaga kepercayaan konsumen. Di tengah bayang-bayang risiko transaksi online, keberadaan toko fisik justru menjadi nilai tambah yang sangat krusial bagi pedagang. Platform media sosial kini tidak hanya difungsikan sebagai sarana promosi, melainkan juga media verifikasi keberadaan toko dan operasional bisnis mereka. Gunakan Medsos untuk Verifikasi Lapangan Jevi (47), salah satu pengelola toko pelek di kawasan Cideng, mengungkapkan bahwa ketakutan pembeli menjadi alasan utama pentingnya transparansi toko. "Sekarang banyak pembeli yang ragu karena pernah kena tipu atau lihat modus video editan di media sosial," ujar Jevi saat ditemui Kompas.com di Cideng, Jakarta Pusat, Selasa (6/10/2026). Jevi menjelaskan bahwa transparansi secara real-time di media sosial menjadi kunci utama untuk meyakinkan calon konsumen yang ragu. "Makanya, lewat media sosial kami tunjukkan langsung kondisi tokonya, barangnya ready atau tidak, sampai proses pasangnya," kata Jevi. Ia menambahkan bahwa dokumentasi langsung tersebut dapat membuktikan bahwa operasional toko fisik mereka benar-benar nyata dan tepercaya. "Ini untuk membuktikan kalau kami toko fisik yang benar-benar ada," ucap Jevi. Sementara itu, Irfan (22), pedagang pelek di lokasi yang sama, membeberkan adanya penurunan jumlah pembeli yang datang langsung ke toko. "Kunjungan fisik secara langsung memang tidak seramai dulu, paling sisa 20 persen dibanding masa jayanya," tutur Irfan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/10/2026). Irfan menilai media sosial menjadi jembatan utama untuk menarik minat konsumen yang enggan keluar rumah namun tetap menginginkan rasa aman "Namun, dengan aktif berinteraksi di media sosial serta memperlihatkan toko dan stok velg secara langsung, pembeli jadi yakin," kata Irfan. Sentra pelek mobil di Cideng, Jakarta Pusat Toko Fisik Jadi Jaminan Transaksi Strategi transparansi digital ini juga disetujui oleh Amir (35), pedagang pelek lainnya di pusat penjualan komponen otomotif tersebut. Ia menilai kepastian alamat dan fisik toko memberikan perlindungan serta rasa aman ekstra bagi konsumen saat bertransaksi secara online. "Konsumen yang mengeluarkan uang jutaan rupiah secara online pasti ada rasa waswas," kata Amir saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (6/10/2026). Menurut Amir, kolaborasi antara pemasaran digital dan bukti fisik menjadi kombinasi tepat dalam mempertahankan bisnis di era modern. "Media sosial jadi etalase, toko fisik jadi jaminannya," ujar Amir. Langkah adaptasi para pedagang pelek di Cideng ini membuktikan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan secara efektif untuk membentengi konsumen dari penipuan. Pendekatan digital yang dikombinasikan dengan pembuktian toko fisik ini pun menjadi bukti ketahanan sentra pelek tradisional dalam menghadapi tantangan zaman.