Musibah kebakaran kembali melanda kawasan Pasar Mobil Kemayoran Senin (21/9/2026) malam. Setelah sebelumnya insiden besar sempat meratakan puluhan kios di Blok S, kini giliran empat kios di Blok A yang hangus terbakar. Meski dampak kebakaran kali ini tidak separah peristiwa terdahulu, berulangnya kejadian ini memicu kekecewaan di kalangan pedagang. Pihak pengelola kawasan dinilai tidak melakukan evaluasi maupun pembenahan fasilitas keselamatan, seperti penyediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di area umum hingga keberadaan hidran sebagai sumber air darurat. Kondisi toko yang terbakar di pasar mobil Kemayoran, Senin (21/9/2026) Para pedagang merasa tidak ada langkah pencegahan konkret yang dilakukan pengelola. Setelah kebakaran terjadi, pola yang berulang hanya sebatas pembangunan kembali kios tanpa ada perbaikan sistem keamanan kebakaran. Inisiatif Pedagang Juned, pemilik toko Auto Service spesialis kaki-kaki di Pasar Mobil Kemayoran, mengungkapkan bahwa setiap kali kebakaran terjadi, tidak pernah ada perubahan signifikan pada infrastruktur kawasan. “Enggak ada (pencegahan). Biasanya kayak gitu aja, setelah kebakaran, dibangun lagi, habis itu yang sebelumnya ambil lagi. Enggak ada perubahannya, enggak ada pengganti, enggak ada apa,” ujar Juned saat ditemui Kompas.com, Selasa (22/9/2026). Menurut Juned, salah satu pemicu utama kebakaran adalah faktor kelalaian serta kondisi instalasi kabel listrik yang sudah uzur. Untuk meminimalkan risiko di toko miliknya, ia terpaksa mengambil langkah pencegahan sendiri secara rutin. “Cuma kelalaian saja. Kalau saya matikan meteran listrik dari luar. Kita enggak punya (APAR), saya matiin meterannya terus. Jadi takut ada yang korslet pas malam,” kata Juned. Tidak Ada Hidran di Lokasi Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Hery dari toko Persatuan Motor, spesialis sparepart Hyundai dan Kia. Ia mengaku selalu merasa cemas setiap kali meninggalkan tokonya di malam hari. Kondisi toko yang terbakar di pasar mobil Kemayoran, Senin (21/9/2026) Sama seperti Juned, Hery selalu mematikan meteran listrik sebelum pulang. Meski telah menyediakan APAR mandiri di dalam tokonya, ia merasa langkah tersebut tetap riskan jika sumber bahaya berasal dari luar area kiosnya. “Pasti khawatir. Langkah preventif kita sudah ada. Tiap malam kita matikan meteran. Cuma gimana kalau yang meledak gardunya? Jadi kita sudah hati-hati tapi dari pusatnya begitu. Saya siaga APAR, kita sudah preventif,” ucap Hery. Namun, yang paling krusial menurut Hery adalah ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran di kawasan tersebut yang sangat minim, terutama ketiadaan hidran air di sekitar lokasi kejadian. Pasar Mobil Kemayoran, Jakarta Pusat yang menjadi salah satu sentra otomotif di Jakarta, Rabu (23/9/2026) “Nah itu dia, enggak ada ya di sini (hidran),” kata Hery. Fasilitas Pemadam Sangat Krusial Kebutuhan akan fasilitas penanggulangan kebakaran di area publik Pasar Mobil Kemayoran terasa makin mendesak jika melihat pola jam operasional toko. Rata-rata toko di sentra otomotif ini sudah tutup sekitar pukul 18.00 WIB. Sementara itu, insiden kebakaran kerap terjadi pada malam hari saat seluruh kios sudah terkunci rapat dan lokasi dalam keadaan sepi tanpa pemilik toko. Dalam situasi seperti ini, keberadaan APAR di titik-titik strategis area umum serta hidran yang berfungsi optimal menjadi benteng utama agar percikan api bisa segera dipadamkan sebelum merembet dan menghanguskan bangunan lainnya.