Arus mudik Lebaran 2026 kembali menjadi tantangan bagi operator bus antarkota antarprovinsi (AKAP). Sejumlah persoalan klasik masih terjadi, bahkan dinilai makin kompleks akibat kurangnya koordinasi lintas sektor. Ketua Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, salah satu kendala utama ada di penyeberangan. Ia menilai pengaturan yang dilakukan belum mampu mengantisipasi lonjakan arus kendaraan. Arus lalu lintas di Km 46 ruas jalan tol Jakarta - Cikampek, Kamis (19/3/2026) pagi. “Yang masih menjadi kendala penyeberangan, pengaturan penyeberangan sepertinya salah prediksi lonjakan arus,” ujar pria yang akrab disapa Sani kepada Kompas.com, Kamis (19/3/2026). Selain itu, kondisi lalu lintas di jalur darat juga menjadi sorotan, terutama di wilayah Sumatera. Jalur Lintas Timur Sumatera Selatan menuju Jambi disebut mengalami kemacetan parah akibat minimnya koordinasi antarprovinsi. “Jalintim Sumsel-Jambi tahun ini parah sekali, tidak ada koordinasi kedua provinsi ini sehingga saat melonjak dan kendaraan berat ada masalah, terjadi penumpukan yang parah,” kata dia. Sani menilai akar persoalan tidak hanya di lapangan, tetapi juga pada pengambilan kebijakan di tingkat pusat. Ia menekankan pentingnya keputusan yang tegas dan sinkron antar kementerian untuk mengantisipasi lonjakan pergerakan masyarakat. Menurut dia, ketidaksinkronan terlihat dari penetapan jadwal libur dan kebijakan rekayasa lalu lintas yang tidak sejalan. Hal ini membuat perhitungan awal menjadi peleset dan berdampak pada kepadatan di lapangan. “Faktanya tanggal 17 kemarin saya masih menemukan angkutan barang yang dilarang di dalam SKB masih bebas melenggang dan tidak ada yang menindak,” kata Kurnia. Lebih jauh, Sani menegaskan kemacetan saat mudik di Pulau Jawa bukan semata disebabkan oleh angkutan logistik. Ia menilai dominasi kendaraan pribadi serta lemahnya sinkronisasi kebijakan menjadi faktor utama kepadatan lalu lintas. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang