Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan akan ada insentif untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026. Hal itu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy).Airlangga mengatakan salah satu yang sedang dipikirkan adalah pemberian insentif motor dan mobil listrik. Adapun skema penyalurannya akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapatkan persetujuan."Beberapa insentif sedang dipikirkan oleh pemerintah, salah satunya di sektor otomotif dan motor, ini nanti kita akan laporkan kepada bapak presiden," kata Airlangga dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026). Pemerintah Bakal Tanggung PPN Mobil ListrikSementara itu di tempat terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut salah satu opsi yang dibahas adalah penanggungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) oleh pemerintah.Menurut Purbaya besaran skema PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) bervariasi mulai dari 40% hingga 100%. Menurutnya hal ini masih didiskusikan oleh pemerintah."Jadi yang diomongin tadi PPN ditanggung pemerintah itu ada yang 100%, ada yang 40%, nanti masih masih didiskusikan skemanya. Itu untuk utamanya EV, yang bukan hybrid. Nanti yang baterainya berdasarkan nikel sama non-nikel akan beda skemanya. Tapi yang itu nanti, nanti Menteri Perindustrian," ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).Insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai nikel kemungkinan akan lebih besar. Kebijakan ini disusun untuk mendorong pemanfaatan nikel menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.Purbaya menyinggung adanya pemberitaan dari media internasional yang meragukan potensi nikel Indonesia setelah China menerapkan teknologi baterai non-nikel. Namun, pemerintah tak habis akal dan terus mendorong pengembangan baterai berbasis nikel sebagai bagian dari strategi hilirisasi."Kenapa saya pakai yang nikel lebih besar subsidinya, karena supaya nikel kita kepake. Dulu saya baca di Economist, judulnya 'Mimpi Indonesia Menguasai Dunia Baterai hilang' karena China pakai bukan nikel. Kita balik sekarang, nikelnya kita pakai, biar punya kita nikelnya bisa terpakai dan hilirisasi teknologi baterainya berjalan," jelas Purbaya.Motor Listrik Dapat Subsidi Rp 5 Juta/UnitUntuk tahap awal, pemerintah menyiapkan subsidi kendaraan listrik yang akan dimulai pada Juni nanti. Rencananya ada 200 ribu unit kendaraan listrik, masing-masing 100 ribu unit motor dan mobil, dapat subsidi.Untuk motor, subsidi yang diberikan Rp 5 juta. Sementara untuk mobil listrik masih dalam pembahasan."Kira kira untuk mobil listrik akan kita kasih berapa? 100.000 subisidi pertama. Kalau habis kita kasih lagi. Motor listrik juga sama. 100 ribu pertama kita akan kasih. Berapa? Rp 5 juta," ujar Purbaya.Skema penyalurannya masih dalam tahap finalisasi dan akan diumumkan lebih lanjut oleh Kementerian Perindustrian dan Kemenko Perekonomian.Purbaya menambahkan, kebijakan ini bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek."Ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek ke depan, triwulan III dan ke tempat. Juni awal akan jalan itu salah satu kebijakan itu. Nanti akan diumumkan lagi Menteri Perindustrian dan Menko Perekonomian," terang Purbaya."Semangat kita yakni kita akan memastikan semua mesin ekonomi akan berjalan, demand sudah jalan ,sekarang di sektor manufaktur," sambungnya.Saksikan informasi selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Rabu (6/5/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat."Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"