Indonesia dinilai masih menjadi pasar yang sangat potensial bagi industri sepeda motor listrik. Selain memiliki jumlah penduduk yang besar, populasi sepeda motor berbahan bakar bensin juga mencapai sekitar 130 juta unit. Komisaris PT Sunra Asia Pacific Hi-Tech (Sunra Indonesia) Ismeth Wibowo mengatakan, pasar kendaraan roda dua di Indonesia masih memiliki ruang yang sangat besar untuk beralih ke kendaraan listrik. "Pengguna motor bensin di Indonesia sekitar 130 juta unit. Jumlah itulah yang menarik kami dari Sunra untuk berinvestasi di Indonesia. Karena menurut orang, angka itu angka yang seksi," katanya kepada Kompas.com, akhir pekan lalu. Motor listrik Sunra Menurut Ismeth, besarnya populasi sepeda motor konvensional menjadi peluang besar bagi pertumbuhan pasar motor listrik di Indonesia. "Itu sangat menarik, 130 juta unit. Sekarang kita impor BBM saja kurang lebih Rp 400 triliun per tahun," ujarnya. Ia menilai, semakin banyak masyarakat beralih ke motor listrik, semakin besar pula potensi penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional. Meski demikian, Ismeth enggan mengungkapkan capaian penjualan Sunra di Indonesia. Ia hanya menegaskan perusahaan menargetkan penjualan setinggi mungkin. "Targetnya sebanyak-banyaknya," katanya. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi Jalan Pelan Di sisi lain, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menilai pasar motor listrik masih memiliki peluang untuk tumbuh, meski lajunya diperkirakan tidak seagresif beberapa tahun terakhir. Ketua Umum Aismoli Budi Setiyadi mengatakan, target industri pada 2026 dibuat lebih realistis, yakni mencapai sekitar 75.000 unit atau naik sekitar 25.000 unit dibandingkan realisasi 2025. Sebagai informasi, berdasarkan data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan, penjualan motor listrik pada 2025 tercatat sekitar 55.059 unit. Booth motor listrik Yadea di PRJ 2026 Lihat dan Tunggu Budi menjelaskan, proyeksi penjualan yang lebih tinggi baru akan terbuka apabila pemerintah kembali menghadirkan program insentif pembelian motor listrik. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap kali muncul wacana mengenai subsidi, pasar justru cenderung memasuki fase wait and see. Banyak calon konsumen menunda pembelian dengan harapan harga motor listrik akan menjadi lebih murah setelah kebijakan baru resmi diumumkan. "Kita sudah sering menghadapi situasi kayak gini. Artinya, ya sudah, yang penting kita kerja untuk bangun industri," ujar Budi.