Keselamatan pebalap menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan MotoGP. Penanganan medis di lintasan terus berkembang untuk memastikan pebalap mendapat pertolongan secepat mungkin ketika mengalami kecelakaan. Kepala Petugas Medis MotoGP, Dr. Angel Charte, mengatakan sistem penanganan medis di MotoGP mengalami perubahan besar sejak kecelakaan tragis Marco Simoncelli pada 2011. Menurut Charte, kecelakaan Simoncelli menjadi salah satu titik penting dalam pembenahan sistem medis di lintasan. Saat itu, masalah dalam proses evakuasi, mulai dari tandu, ambulans hingga fasilitas medis, membuat proses penanganan korban tidak berjalan optimal. "Ketika kecelakaan tersebut terjadi, terdapat masalah dalam proses evakuasi, mulai dari tandu, ambulans, hingga fasilitas medis yang dari sudut pandang medis saat itu belum memiliki struktur yang cukup kompeten. Situasi tersebut berkembang menjadi sebuah bencana," katanya dilansir dari Speedweek, Kamis (13/8/2026). Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) mengendarai motornya untuk memenangkan MotoGP Ceko 2026 di Sirkuit Brno, Republik Ceko, pada 21 Juni 2026. (Foto oleh Michal Cizek / AFP) Tim Medis Langsung di Lintasan Setelah kejadian Marco Simoncelli, MotoGP membentuk unit medis yang dapat memberikan penanganan langsung di lokasi kecelakaan. Charte mengatakan langkah tersebut sangat penting karena beberapa cedera membutuhkan tindakan medis dalam hitungan menit. "Unit tersebut dibentuk setelah kecelakaan tragis Marco Simoncelli pada 2011. Saat itu, satu hal menjadi sangat jelas, para pebalap harus diberi kesempatan untuk bertahan hidup," katanya. "Satu-satunya cara untuk mencapai hal tersebut adalah menempatkan tim perawatan intensif langsung di lintasan. Sebelumnya, hal seperti ini belum ada," ungkapnya. Charte mengungkapkan, dalam satu musim, tim medis MotoGP menangani lebih dari 1.000 kecelakaan. Namun, hanya sebagian kecil yang masuk kategori serius. "Sejak saat itu, kami terus melakukan perbaikan setiap hari dan saya yakin kondisi saat ini sangat penting. Dari lebih dari 1.000 kecelakaan yang kami tangani, mungkin hanya delapan atau sembilan yang benar-benar serius," katanya. Marc Marquez bersama Dr Angel Charte menunggangi motor menuju pusat medis Sirkuit Jerez setelah mengalami kecelakaan hebat pada akhir-akhir sesi FP3 MotoGP Spanyol, Sabtu (1/5/2021). Menurut Charte, pada kecelakaan serius, pebalap bisa membutuhkan tindakan seperti intubasi atau prosedur medis lainnya. Tindakan tersebut harus dilakukan sesegera mungkin di lokasi kejadian. "Namun, dalam kasus tersebut, Anda mungkin harus melakukan intubasi terhadap pebalap, melakukan tindakan medis tertentu, dan itu hanya bisa dilakukan langsung di lintasan. Waktu yang hilang dalam proses tersebut sangatlah krusial," ujarnya. Charte bahkan mencontohkan cedera kepala yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. "Jika seseorang mengalami pendarahan otak dan tidak dihentikan dalam waktu dua menit, pasien bisa meninggal," katanya. Persyaratan Ketat Untuk menjaga kualitas penanganan medis, dokter yang tergabung dalam tim MotoGP tidak dipilih sembarangan. Charte mengatakan dokter harus memiliki pengalaman dan pendidikan khusus sebelum dapat bergabung dengan tim medis MotoGP. Kepala Petugas Medis MotoGP, Dr. Angel Charte "Kandidat harus memiliki lebih dari lima tahun pelatihan spesialisasi di bidang perawatan intensif, anestesi, atau kedokteran darurat," katanya. Selain itu, mereka harus bekerja di rumah sakit universitas di negara masing-masing dan terus mengikuti pendidikan lanjutan. "Saya memverifikasi hal tersebut pada setiap balapan," ujarnya. Komposisi tim juga dapat berubah dari satu seri ke seri berikutnya. Karena itu, Charte harus memastikan dokter baru memiliki kemampuan yang sesuai dengan standar yang dibutuhkan. Pebalap MotoGP Charte membantah anggapan bahwa pebalap MotoGP memiliki tubuh yang berbeda dari manusia pada umumnya. Menurut dia, tubuh pebalap tetap sama seperti manusia lainnya. Perbedaannya terletak pada pengalaman dan latihan yang mereka jalani sejak usia muda. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) merayakan kemenangan di MotoGP Ceko 2026 di Sirkuit Brno, Republik Ceko, pada 21 Juni 2026. (Foto oleh Michal Cizek / AFP) "Para pebalap juga mampu kembali ke lintasan setelah mengalami kecelakaan yang mungkin membuat kita semua tidak bisa beraktivitas. Benarkah mereka berbeda? Itu adalah mitos. Tubuh manusia sama untuk semua orang," kata Charte. Charte menjelaskan, banyak pebalap sudah mengenal motor sejak usia sangat muda. Mereka juga mengalami berbagai kecelakaan sehingga terbiasa memahami cara jatuh, meluncur, dan bereaksi ketika kehilangan kendali. "Hal tersebut memaksa mereka belajar bagaimana cara jatuh, bagaimana meluncur, dan bagaimana bereaksi dengan benar," ujarnya. Beda Pebalap Modern Selain kemampuan fisik dan teknik, Charte melihat perubahan dari sisi mental para pebalap. Menurut dia, para pebalap MotoGP kini semakin memahami risiko yang mereka hadapi ketika berada di lintasan. Cal Crutchlow gantikan Johann Zarco pada MotoGP Italia 2026 "Ya. Terutama belakangan ini, saya melihat adanya kehati-hatian tertentu. Sekarang mereka tahu bahwa suatu hari mereka bisa berakhir di rumah sakit setelah mengalami kecelakaan yang sangat serius," ungkapnya. Charte bahkan melihat perubahan cara pandang pebalap terhadap risiko. "Saya terus mengikuti pernyataan mereka. Misalnya, Martin mengatakan hal-hal seperti, 'Saya tahu bahwa suatu hari saya bisa berakhir di rumah sakit,' atau 'Saya mendengarkan tubuh saya'," katanya. Menurut Charte, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran pebalap terhadap kondisi tubuh dan risiko kecelakaan telah berubah. Namun, ketika berada di lintasan, karakter kompetitif tetap muncul. Para pebalap tetap harus mengambil risiko untuk memenangkan balapan. "Kemudian mereka keluar ke lintasan dan semuanya berubah, karena di sana Anda harus berjuang untuk meraih kemenangan. Siapa pun yang tidak berani mengambil risiko akan tersingkir," katanya.