Praktik pemalsuan identitas pada mobil bekas masih menjadi ancaman tersembunyi di pasar kendaraan second, terutama karena dilakukan dengan teknik yang semakin halus dan sulit dikenali oleh orang awam. Modus seperti menempel ulang nomor rangka, menutupnya dengan dempul, lalu merapikan cat di sekitarnya kerap membuat tampilan terlihat normal, padahal menyimpan risiko besar bagi pembeli. Menurut Gazoel Amin, pemilik jasa inspeksi Bantu Cek, pemalsuan ini biasanya menyasar area vital seperti nomor rangka dan nomor mesin yang seharusnya memiliki karakter fisik khas dari pabrikan. “Modusnya itu halus, biasanya ditempel dulu, lalu didempul di bagian pinggirnya supaya terlihat rapi. Setelah itu dicat ulang, jadi sekilas seperti tidak ada masalah,” kata Gazoel kepada Kompas.com, Jumat (17/4/2026). Ia menjelaskan, pada sejumlah model kendaraan, area di sekitar nomor rangka sejatinya memiliki kontur khas berupa molding atau tonjolan yang presisi dan simetris dari pabrikan. Namun pada unit yang telah dimanipulasi, detail tersebut kerap berubah, permukaannya terlihat kurang rapi, cenderung bergelombang, atau tidak lagi memiliki bentuk yang seragam. Ilustrasi nomor rangka mobil. Selain itu, perbedaan juga dapat dilihat dari bentuk huruf atau font nomor rangka yang tidak konsisten. Menurut Gazoel, pabrikan memiliki standar cetakan yang presisi, sehingga ketidakteraturan pada bentuk angka dan huruf bisa menjadi tanda adanya rekayasa. Kecurigaan juga perlu diperluas ke nomor mesin. Ia mencontohkan, pada beberapa model, nomor mesin dibuat dengan teknik coakan ke dalam, bukan permukaan datar. Jika ditemukan permukaan yang rata atau bahkan ada bekas las di sekitarnya, hal tersebut patut diwaspadai. “Kalau dilihat dari samping, biasanya ada bekas tempelan atau bekas las. Itu yang sering tidak disadari oleh pembeli awam,” ujarnya. Gazoel menegaskan, kondisi seperti ini tidak hanya berisiko secara finansial, tetapi juga bisa menimbulkan masalah hukum bagi pemilik kendaraan di kemudian hari. Pasalnya, kendaraan dengan identitas yang tidak sesuai berpotensi dianggap sebagai barang bermasalah. Karena itu, ia menyarankan calon pembeli mobil bekas untuk tidak hanya fokus pada kondisi mesin atau tampilan eksterior, tetapi juga melakukan pengecekan menyeluruh, termasuk pada aspek legal dan keaslian identitas kendaraan. Jika perlu, gunakan jasa inspeksi independen untuk memastikan kendaraan yang dibeli benar-benar aman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang