Gagasan untuk menghadirkan mobil nasional kembali mencuat setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya agar Indonesia memiliki kendaraan karya anak bangsa dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Langkah awal dipercayakan kepada PT Pindad (Persero), perusahaan BUMN yang selama ini dikenal lewat kendaraan tempur dan alat berat. Namun, di tengah optimisme tersebut, pengamat otomotif Bebin Djuana mengingatkan bahwa semangat besar saja belum cukup untuk melahirkan mobil nasional yang benar-benar diterima masyarakat. “Kita mulai dari hal positifnya dulu. Dikerjakan di Pindad, dan Pindad punya alat yang modern serta presisi. Itu jadi modal penting karena kalau alatnya tidak modern, tak presisi, lupakan saja idenya,” ujar Bebin saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/10/2025). Baginya, tantangan utama menciptakan mobil nasional ada pada kesamaan arah dan komitmen antarpemangku kepentingan. “Di Indonesia, menyatukan visi tidaklah mudah. Terlalu banyak komentar dan kepentingan yang saling tarik-menarik. Termasuk kepentingan merek-merek besar yang sudah lama berbisnis di sini,” katanya. Kendaraan Maung MV3 Garuda Limousine yang digunakan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri sidang tahunan MPR-RI, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (15/8/2025). Mobil Rakyat, Bukan Sekadar Simbol Bebin menilai, jika mobil nasional ingin diterima publik, maka orientasinya harus jelas, yakni diperuntukkan bagi masyarakat luas, bukan hanya proyek simbolis untuk kendaraan pejabat atau instansi pemerintah. “Kalau disebut mobil nasional, berarti masyarakat juga punya kesempatan untuk membeli. Tapi jangan top-down, langsung bilang ‘ini mobil nasional, kalian harus pakai’. Harus ada riset pasar, publik butuh mobil seperti apa?” ujarnya. Ia menyinggung karakter Maung, produk Pindad yang banyak disebut sebagai calon mobil nasional, yang masih kental dengan unsur militer. Memang wajar jika latar belakang Prabowo sebagai militer memengaruhi karakter desain kendaraan itu, namun perlu adaptasi bila kendaraan tersebut ingin menembus pasar sipil. Menentukan Arah Teknologi Dalam konteks industri otomotif global yang tengah berubah cepat, Bebin menilai penting untuk memahami ke mana arah teknologi bergerak. Ia menekankan, mobil nasional tidak bisa terjebak pada teknologi yang akan usang dalam tiga tahun ke depan. “Kita harus tahu, tiga tahun lagi industri akan ke mana. Apakah menuju ke listrik, hybrid, atau masih mempertahankan mesin pembakaran dalam (ICE). Jangan sampai mobilnya jadi di tahun 2029, tapi modelnya terasa 2008,” katanya. Ilustrasi pabrik mobil Hyundai di Korea Selatan. “Contoh, dulu power window merupakan kemewahan, tapi sekarang motor saja sudah pakai remot. Jadi sebelum membuat mobil nasional, kita harus tahu dulu konsumen tiga tahun lagi maunya apa,” ucap dia. Selain itu, Bebin juga menyoroti rencana penggunaan bodi fiberglass yang tengah dikembangkan Pindad. Menurutnya, bahan tersebut bisa jadi pilihan asalkan dikelola dengan teknologi yang tepat. “Fiberglass bukan jelek. Tapi penguasaannya harus tinggi, karena beda antara bikin bodi fiber untuk odong-odong dengan bikin mobil presisi seperti Ferrari atau Koenigsegg. Ini mainnya dalam hitungan milimeter,” jelasnya. Menurut Bebin, kalau proses produksinya masih seperti karoseri, maka yang bekerja pun harus tukang karoseri yang ahli dalam detail dan presisi, bukan bekas pekerja pabrik mobil yang terbiasa dengan sistem produksi massal serba otomatis. Belajar dari Timor dan Bimantara Sejarah mencatat, Indonesia pernah mencoba mewujudkan mimpi serupa lewat Timor dan Bimantara di era 1990-an. Keduanya lahir dari semangat kemandirian, bekerja sama dengan produsen asal Korea Selatan. Ilustrasi mobil nasional Timor Antusiasme masyarakat kala itu tinggi, namun proyek berhenti di tengah jalan. “Sayangnya, waktu itu kita bekerja sama dengan industri otomotif Korea yang masih relatif muda. Masih banyak kekurangan, terutama dari sisi durabilitas,” ujar Bebin. Ia menyebut, Jepang kala itu sudah jauh lebih mapan, tetapi sulit diajak kerja sama karena pertimbangan bisnis. "Maka sangat penting sekali untuk menentukan partner dalam mengembangkan mobil nasional serta keberlangsungannya," ucap dia. Menurut Bebin, jika proyek mobil nasional mau berjalan realistis, maka perlu partner strategis dan mentor industri yang kuat. Ia menilai, bekerja sama dengan Korea Selatan kali ini bisa jadi langkah strategis karena industrinya sudah matang. “Jangan merasa semua bisa sendiri. Percaya diri boleh, tapi harus tahu batas kemampuan,” ujar Bebin. “Sebab setelah diproduksi, pertanyaannya bukan siapa yang mampu beli, tapi siapa yang mau beli. Kalau mobilnya sudah jadi tapi masyarakat enggan pakai, percuma. Itu tantangan terbesarnya,” ucapnya. Menatap Masa Depan Sebagai pembanding, Bebin menyinggung kisah Proton dari Malaysia yang kini tetap eksis setelah melalui perjalanan panjang. Menurutnya, Indonesia pun bisa, asal dijalankan dengan konsisten dan tidak setengah hati. “Proton bisa karena mereka sabar dan berproses. Kita juga bisa, asal ada yang membimbing dan kemauannya tidak berhenti di tengah jalan,” tuturnya. Bebin menutup dengan catatan bahwa semangat memiliki mobil nasional adalah sesuatu yang baik dan membanggakan, namun tetap harus berpijak pada kenyataan. “Lebih baik membumi. Kalau setahun bisa bikin seribu unit, itu sudah bagus. Dari situ kita belajar. Karena membangun industri otomotif itu bukan soal gengsi, tapi soal kemampuan bertahan dan dipercaya publik,” pungkasnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.