Perilaku berbahaya di jalan raya ternyata memiliki pola yang berbeda antara kota besar dan daerah. Kalau di kota besar insidennya lebih banyak berupa cekcok dan letupan kemarahan antarpengemudi, di daerah justru lebih sering muncul aksi-aksi nekat yang dilakukan demi eksistensi diri. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu menjelaskan, perbedaan pola ini erat kaitannya dengan tekanan hidup yang dialami masyarakat di masing-masing wilayah. Ilustrasi cekcok di jalan, road rage, ribut Tekanan Hidup di Kota Besar Jadi Pemicu Utama Jusri menyebut, tingginya tensi kehidupan di kota-kota besar menjadi salah satu penyebab mengapa cekcok atau letupan kemarahan di jalan lebih sering terjadi di wilayah perkotaan. orang kota besar, tensinya tinggi banget, karena kehidupan di kota-kota besar, bagi sebuah keluarga, itu sudah berat, mayoritas," ujar Jusri kepada Kompas.com, Selasa (18/8/2026). Ia menjelaskan, tekanan tersebut umumnya berasal dari masalah-masalah yang menumpuk, mulai dari pekerjaan, kondisi finansial, hubungan dengan orang terdekat, hingga persoalan kesehatan. Ketika sudah menumpuk, sedikit gesekan di jalan bisa menjadi pemantik yang membuat emosi meledak. Kelompok Berkecukupan Juga Tak Luput dari Masalah Menariknya, Jusri menegaskan bahwa fenomena ini tidak hanya dialami masyarakat dengan tekanan ekonomi. Kelompok yang secara finansial berkecukupan pun memiliki pemicu tersendiri, meski bentuknya berbeda. "Mungkin dia tidak punya mental problem, tapi hidden hazard yang lain adalah dia minta pengakuan, eksistensi," katanya. Menurut Jusri, kebutuhan akan pengakuan status sosial ini bisa mendorong seseorang bersikap arogan di jalan raya, tanpa disadari sebagai bagian dari perilaku yang berisiko memicu konflik. "Eksistensi ini lebih kepada ego, ketidaksadaran mereka tentang empati," ujarnya. Di Daerah, Aksi Berbahaya Justru demi Eksis Berbeda dengan kota besar, Jusri menjelaskan bahwa di kota kecil maupun desa, pola perilaku berbahaya di jalan cenderung berbeda karakter. Bukan berupa cekcok atau letupan kemarahan, melainkan aksi-aksi yang secara langsung membahayakan keselamatan demi mendapat perhatian. Ia mencontohkan perilaku pengemudi bus maupun truk logistik yang kerap bermanuver secara berlebihan di jalan. Bus oleng menjadi adegan berbahaya dan disukai anak-anak dan remaja. "Kita lihat bus atau truk yang membawa logistik melakukan tindakan oleng ke kiri, oleng ke kanan. Itu kan juga membahayakan," ujarnya. Mengikuti Tren demi Pengakuan di Media Sosial Jusri menyebut, aksi-aksi berbahaya semacam itu umumnya didorong oleh keinginan mendapat pengakuan, salah satunya dengan mengikuti tren yang sedang viral di media sosial. "Itu lebih kepada eksistensi, minta pengakuan. Pengakuan dengan cara mengikuti yang lagi hype di luar, video-video atau media sosial-media sosial," katanya. Menurutnya, kelompok ini umumnya bukan didorong oleh tekanan psikologis yang berat seperti pada kasus cekcok di kota besar, melainkan karena kurangnya kesadaran akan risiko keselamatan dari tindakan yang mereka lakukan. "Kesadaran tentang keselamatannya kurang," ujar Jusri. Beda Pemicu, Sama-sama Berbahaya Meski pemicunya berbeda, Jusri menegaskan kedua fenomena ini sama-sama berujung pada potensi bahaya di jalan raya. Ia menyebut, cekcok di kota besar dan aksi nekat di daerah merupakan dua sisi dari persoalan yang sama, yakni kurangnya kesadaran akan pentingnya empati dan keselamatan saat berkendara.