Ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mulai berdampak pada sektor transportasi darat. Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) memberikan sinyal adanya penyesuaian harga tiket bus dalam waktu dekat. Langkah ini harus diambil oleh para pemilik perusahaan otobus (PO) demi menjaga keberlangsungan operasional. Pasalnya, biaya perawatan bus kian tercekik akibat kenaikan harga suku cadang impor. Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan mengatakan, fluktuasi kurs Rupiah sangat berpengaruh pada harga komponen vital dan pelumas bus di pasaran saat ini. Sejumlah bus parkir di area keberangkatan Terminal Patria Blitar, Kota Blitar, Jumat (13/3/2026) "Kalau bicara pengaruh, sangat pengaruh. Hari ini maintenance cost kita naik karena oli pelumas saja bulan lalu naik dari Rp 7,2 juta sudah jadi Rp 9,5 juta," ucap pria yang akrab disapa Sani di Jakarta, Rabu (20/5/2026). Sani menambahkan, komponen lain seperti ban juga sudah terkonfirmasi akan mengalami kenaikan harga sekitar 20 persen pada bulan ini. Sejauh ini, operasional PO bus masih terbantu karena pihak distributor suku cadang masih menjual stok lama. Namun jika stok tersebut habis, kenaikan harga komponen ke depan dipastikan tidak lagi bisa dihindari. Oleh karena itu, IPOMI menghitung adanya potensi penyesuaian tarif tiket berkisar antara 30 persen hingga 40 persen. Langkah ini juga menjadi bentuk antisipasi jika pemerintah nantinya menyesuaikan harga BBM subsidi ke angka Rp 9.000 atau Rp 10.000. "Artinya gini, sebelum BBM naik pun, kami sudah harus menyesuaikan. Bukan menaikkan loh ya, menyesuaikan. Hitungan saya sementara, kurang lebih 30 sampai 40 persen kita disesuaikan," kata Sani. Pada kesempatan yang sama, pemilik PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali mengeklaim bahwa para pengusaha bus saat ini sedang melakukan berbagai efisiensi agar tidak langsung membebankan biaya ke konsumen. Salah satunya dengan memangkas jumlah armada yang jalan. "Kita turunkan operasional. Misalkan dari 20 unit diringkas menjadi 15 atau 12 unit per agen. Sehingga penggunaan spare part segala macamnya juga lebih turun, menyesuaikan dulu. Itu cara survival kami yang paling logis," ujar Anthony. Beban pengusaha bus dirasa makin berat karena adanya akumulasi kenaikan tarif tol di beberapa ruas serta rencana kenaikan PPN. Padahal, biaya tol dan BBM merupakan komponen biaya langsung terbesar yang menyerap 40 persen hingga 45 persen dari uang jalan. "Kami bisa beroperasi sekarang, tapi kalau tidak ada penyesuaian (tarif), kami tidak bisa merawat armada kami nanti," tutur Sani. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang