JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor transportasi darat masih menjadi penyumbang terbesar polusi emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia. Tingginya ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi berbasis bahan bakar fosil disebut sebagai faktor utama yang memperparah kondisi tersebut. Deputi di Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Meinarti Fauzie, mengungkapkan bahwa hampir seluruh emisi dari sektor transportasi berasal dari aktivitas di darat. “Transportasi darat menyumbang hampir 90 persen dari total emisi GRK sektor transportasi, tepatnya sekitar 89,9 persen,” ujar Meinarti di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Secara keseluruhan, sektor transportasi berkontribusi sekitar 22 hingga 27 persen dari total emisi sektor energi. Ilustrasi : antrean pembeli BBM di salah satu APMS Nunukan Angka ini setara dengan sekitar 12,2 persen hingga 15 persen dari total emisi nasional. Dominasi emisi dari transportasi darat tidak lepas dari tingginya jumlah kendaraan pribadi di Indonesia. Saat ini, jumlah kendaraan bermotor tercatat mencapai sekitar 164,5 juta unit, dengan mayoritas berupa sepeda motor dan mobil pribadi. Ketergantungan terhadap kendaraan berbasis bahan bakar fosil juga berdampak signifikan terhadap peningkatan emisi karbon. Bahkan, emisi karbon dioksida (CO2) dari kendaraan pribadi disebut telah melampaui 108 juta ton per tahun. Di sisi lain, kontribusi transportasi umum masih tergolong sangat kecil. Jumlah bus, misalnya, hanya sekitar 0,2 persen dari total populasi kendaraan, menunjukkan rendahnya peran angkutan massal dalam mobilitas masyarakat. “Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi. Ini yang menjadi salah satu penyebab utama tingginya emisi di sektor transportasi,” kata Meinarti. Selain itu, penggunaan truk berbasis diesel dalam sektor logistik serta belum optimalnya layanan angkutan umum turut memperbesar beban emisi. Deretan truk yang antre di Dermaga Bulusan Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Hal ini membuat upaya penurunan emisi menjadi semakin menantang. Kontribusi Emisi Berdasarkan Jenis Kendaraan Untuk memberi gambaran, berikut komposisi kontribusi emisi di sektor transportasi darat berdasarkan jenis kendaraan: Jenis Kendaraan Perkiraan Kontribusi Emisi Kendaraan pribadi (mobil + motor) > 50% Truk (logistik, diesel) ± 40,56% Bus/angkutan umum < 5% Lainnya Sisanya Catatan: angka merupakan estimasi berdasarkan berbagai kajian, termasuk WRI Indonesia. Ironi Truk: Populasi Kecil, Emisi Besar Di tengah dominasi kendaraan pribadi, sektor logistik juga menyimpan persoalan tersendiri. Truk yang jumlahnya relatif kecil justru menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Urban Mobility Manager WRI Indonesia, Dimas Fadhil, mengungkapkan bahwa populasi truk di Indonesia hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan bermotor. Namun kontribusinya terhadap emisi mencapai sekitar 40,56 persen. “Jumlah truk itu mungkin hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan nasional. Tapi dari perhitungan kami, kontribusinya mencapai sekitar 40,56 persen emisi di sektor transportasi,” ujar Dimas. Ketimpangan ini terjadi karena karakteristik operasional truk yang mengandalkan bahan bakar solar serta digunakan dengan intensitas tinggi untuk distribusi barang. Bahkan, hampir 90 persen pergerakan logistik nasional masih bergantung pada moda ini. Selain berdampak pada lingkungan, tingginya penggunaan truk diesel juga membebani anggaran negara melalui subsidi bahan bakar solar yang mencapai puluhan triliun rupiah. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang