Transmisi otomatis Continuous Variable Transmission (CVT) kini banyak ditemui di mobil-mobil keluaran baru. Selain menawarkan kenyamanan, sistem ini dikenal memberikan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien ketimbang transmisi otomatis konvensional. Namun, di balik keunggulannya, transmisi CVT tetap memiliki kekurangan yang perlu dipahami pemilik kendaraan agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Menurut Eddy Handoko Wijaya, pemilik bengkel spesialis transmisi otomatis Bos Matic, CVT menawarkan karakter perpindahan rasio yang halus tanpa ada hentakan, sehingga membuat pengalaman berkendara terasa lebih nyaman. “Kalau untuk efisiensi bahan bakar, CVT lebih bagus. Karena tidak ada jeda perpindahannya. Jadi tidak ada RPM yang naik turun, lebih smooth,” ujar Eddy kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Berbeda dengan transmisi matik konvensional yang mengandalkan perpindahan gigi, CVT menggunakan sabuk baja atau belt yang bekerja secara bertahap mengikuti putaran mesin. Inilah yang membuat tarikan mobil terasa linear tanpa hentakan. Transmisi matik Namun, Eddy menegaskan, sistem yang halus tersebut memiliki sisi rentan. Komponen CVT belt menjadi salah satu bagian yang paling sering mengalami kerusakan jika tidak dirawat dengan baik. Gejala ini umumnya muncul ketika transmisi sudah mengalami keausan. Ketika belt tidak lagi bekerja optimal, putaran mesin tidak bisa diteruskan secara efektif ke roda. Akibatnya, mobil terasa seperti ngeden. Kondisi tersebut juga berpengaruh pada konsumsi bahan bakar. Alih-alih irit seperti seharusnya, CVT yang bermasalah justru bisa membuat mobil semakin boros. “Jadi dibalik keunggulan konsumsi bahan bakar tadi, kalau dia bermasalah justru konsumsi bahan bakarnya jadi lebih boros. Karena transmisi tidak normal, meraung-meraung, RPM tinggi, sementara jalannya pelan,” kata Eddy. Transmisi CVT Mitsubishi Xpander Cross 2021 Untuk menjaga transmisi CVT tetap optimal, pemilik kendaraan disarankan untuk rutin melakukan penggantian oli CVT, biasanya setiap 40.000 hingga 60.000 kilometer, tergantung dari rekomendasi pabrikan dan pola penggunaan harian. Mengabaikan perawatan hanya akan memperbesar risiko kerusakan komponen internal yang biaya perbaikannya tidak bisa dibilang murah. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.