Mobil dengan transmisi otomatis semakin diminati di Indonesia, terutama karena kemudahannya di tengah kondisi lalu lintas Ibukota yang padat. Pengemudi tak perlu lagi repot menginjak kopling atau memindahkan gigi secara manual, cukup injak gas dan rem. Namun di balik kenyamanan itu, transmisi otomatis punya beberapa hal yang perlu diperhatikan baik dari segi performa, efisiensi bahan bakar, hingga perawatan. Eddy Handoko Wijaya, pemilik bengkel spesialis transmisi otomatis Bos Matic, mengatakan setiap jenis transmisi otomatis punya karakter berbeda. Secara umum, ada tiga tipe utama yang digunakan pada mobil modern saat ini, yakni AT (Automatic Transmission) konvensional, Continuously Variable Transmission (CVT), dan Dual-Clutch Transmission (DCT). “Kalau untuk efisiensi bahan bakar, CVT lebih bagus. Karena dia tidak ada jeda perpindahannya. Jadi tidak ada RPM yang naik turun, lebih smooth, lebih halus, dan konsumsi bahan bakar lebih irit,” ujar Eddy saat ditemui Kompas.com di Tangerang, Selasa (28/10/2025). Namun, di balik efisiensinya, Eddy menegaskan bahwa transmisi CVT juga memiliki kelemahan. Sistem yang mengandalkan sabuk baja atau belt ini cukup sensitif terhadap gaya berkendara dan kondisi mobil. Apakah mobil matik transmisi CVT sulit menanjak? “Kelemahannya dia memang rentan dengan kerusakan CVT belt-nya. Misalkan jadi mobil ndut-dutan, kemudian suka meraung-meraung aja jalannya. Jadi RPM sudah tinggi tapi jalannya lemot. Kalau begitu, konsumsi bahan bakarnya malah jadi boros,” lanjutnya. Sementara itu, transmisi otomatis konvensional (AT) justru dikenal lebih tangguh dan jarang bermasalah. Sistem ini mengandalkan tekanan oli dan komponen mekanis seperti torque converter untuk memindahkan gigi. “Kalau konvensional, dia lebih awet dalam performanya. Jarang bermasalah, jarang rusak. Cuman memang perpindahan giginya terasa, jadi kurang smooth. Tapi untuk ketahanan secara materialnya, dia lebih tahan lama,” kata Eddy. Dibandingkan dua jenis lainnya, transmisi Dual-Clutch Transmission (DCT) menawarkan performa paling responsif. Sistem dua koplingnya memungkinkan perpindahan gigi berlangsung cepat tanpa jeda. “Kalau DCT, kelebihan dia lebih responsif. Cuman untuk ketahanannya dia agak sensitif," kata Eddy. Ilustrasi mengemudi mobil matik. Artinya, transmisi otomatis terutama tipe konvensional menawarkan kenyamanan dan ketahanan yang lebih baik dibanding model CVT atau DCT. Mobil dengan transmisi ini cocok untuk pengendara yang menginginkan kemudahan berkendara tanpa khawatir soal keandalan. Namun, kekurangannya terletak pada perpindahan gigi yang terasa lebih kasar dan konsumsi bahan bakar yang cenderung sedikit lebih boros dibanding CVT. Sedangkan CVT unggul dalam hal efisiensi bahan bakar dan kehalusan berkendara, tetapi lebih sensitif terhadap kerusakan, terutama di bagian sabuknya. Adapun DCT memberi respon cepat dan performa tinggi, namun membutuhkan perawatan ekstra karena sistemnya yang kompleks dan sensitif terhadap gangguan sensor. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.