Memilih mobil dengan transmisi otomatis kini tidak lagi sesederhana memilih “matik atau manual”. Di pasar Indonesia, dua jenis transmisi otomatis yang paling umum adalah CVT (Continuously Variable Transmission) dan AT (Automatic Transmission) konvensional berbasis torque converter. Keduanya sama-sama menawarkan kemudahan berkendara, namun memiliki karakter berbeda, terutama dari sisi kenyamanan, efisiensi bahan bakar, hingga biaya perawatan. Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, perbedaan utama antara CVT dan AT konvensional terletak pada cara kerja penyaluran tenaga dari mesin ke roda. “CVT itu tidak punya perpindahan gigi seperti AT biasa, jadi rasio bisa berubah secara halus dan kontinu. Sementara AT konvensional tetap pakai gear set, jadi terasa ada perpindahan gigi,” kata Lung Lung kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026). Dari sisi kenyamanan, CVT umumnya unggul karena perpindahan tenaga terasa lebih halus tanpa hentakan. Hal ini membuat mobil dengan CVT lebih nyaman digunakan di kondisi lalu lintas padat, seperti stop and go di perkotaan. “Kalau dipakai harian di kota, CVT lebih enak karena tidak ada hentakan. Jadi penumpang juga lebih nyaman, apalagi saat macet,” ujar Lung Lung. Transmisi CVT Mitsubishi Xpander Cross 2021 Namun, untuk urusan karakter berkendara, sebagian pengemudi justru lebih menyukai AT konvensional. Respons akselerasi pada AT dinilai lebih terasa “bertenaga” karena adanya perpindahan gigi yang jelas. “AT konvensional biasanya terasa lebih responsif, terutama saat butuh tenaga cepat seperti menyalip atau jalan menanjak,” kata Lung Lung. Dari sisi efisiensi bahan bakar, CVT biasanya lebih unggul. Hal ini karena sistemnya mampu menjaga putaran mesin di titik paling optimal sesuai kebutuhan, sehingga konsumsi BBM bisa lebih hemat. Meski begitu, biaya perawatan menjadi faktor lain yang perlu dipertimbangkan. CVT membutuhkan perhatian khusus, terutama pada oli transmisi yang harus diganti sesuai interval. CVT pada mobil matik. “Kalau CVT, perawatan oli itu penting. Jangan sampai telat, karena bisa berdampak ke komponen internal seperti belt dan pulley,” ucap Lung Lung. Sementara AT konvensional cenderung lebih “tahan banting” dan toleran terhadap kondisi pemakaian yang lebih berat, meski tetap membutuhkan perawatan rutin. Pada akhirnya, pilihan antara CVT dan AT konvensional kembali pada kebutuhan pengguna. Jika mengutamakan kenyamanan dan efisiensi untuk penggunaan harian di dalam kota, CVT bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika lebih sering menghadapi medan berat atau menginginkan sensasi berkendara yang lebih responsif, AT konvensional masih menjadi opsi yang layak dipertimbangkan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang