Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai menyiapkan pengembangan industri pengolahan atau daur ulang baterai kendaraan listrik di dalam negeri.Langkah ini dilakukan seiring dengan semakin berkembangnya ekosistem kendaraan listrik dan industri baterai di Indonesia. Pemerintah memperkirakan kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan baterai yang sudah memasuki masa pakai akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengatakan, pengembangan teknologi baterai di Indonesia saat ini sudah memasuki tahap yang lebih lengkap. Ilustrasi daur ulang baterai Menurut dia, hilirisasi nikel yang didorong pada periode 2022-2025 telah menghasilkan industri nikel sulfat dan kobalt sulfat. Selanjutnya, pada 2026-2030, pengembangan diarahkan ke material katoda dan anoda. “Ini sudah ada pabrik baterai yang juga sudah menyiapkan katoda dan anoda material, bahkan menyusun katoda dan anoda untuk baterai listriknya sendiri langsung digunakan untuk baterai listrik,” ujar Setia, dalam rapat dengar pendapat Panja Komisi VII DPR RI yang disiarkan daring (9/9/2026). Dengan demikian, industri dalam negeri tidak hanya mulai mampu memproduksi baterai, tetapi juga memiliki sejumlah rantai pasok material yang dibutuhkan untuk membuat baterai kendaraan listrik. Peresmian pabrik BYD di Subang, Kamis (3/9/2026). Industri Daur Ulang Baterai Setelah membangun rantai pasok baterai dari hulu, pemerintah kini mulai melihat kebutuhan di sisi hilir, yakni ketika baterai sudah mencapai akhir masa pakai. Setia mengatakan, teknologi end-of-life recycle atau pengolahan baterai yang sudah tidak digunakan juga menjadi bagian yang akan didorong pemerintah. Menurut dia, kebutuhan terhadap industri daur ulang baterai diperkirakan akan meningkat dalam sekitar tiga tahun ke depan. 300 unit Air ev mulai diberangkatkan menuju Bali sebagai Official Car Partner KTT G20 dari fasilitas pabrik Wuling Motors di Cikarang, Jawa Barat. Jawa Barat (Jabar) teratas dalam realisasi investasi. “Terakhir adalah teknologi end-of-life recycle, ini juga kita dorong supaya karena estimasinya puncaknya (peak) itu tiga tahun ke depan ini akan mulai mekanisme recycle baterai akan mencapai peak season-nya karena sudah sejak digunakan dari 2023 tadi,” kata Setia. Kondisi tersebut tidak terlepas dari mulai meningkatnya penggunaan kendaraan listrik sejak beberapa tahun terakhir. Dengan semakin banyak baterai yang beroperasi, pemerintah perlu memastikan baterai yang telah mencapai akhir masa pakainya tidak menjadi limbah yang tidak tertangani. SPKLU Signature di Summarecon Mall Bekasi (SMB) hadir dengan spesifikasi industrial. Ekosistem Baterai Mulai Dibangun Setia menjelaskan, pengembangan industri baterai nasional kini mulai mencakup berbagai tahapan, mulai dari material hingga produk baterai. Potensi nikel dalam negeri menjadi salah satu basis pengembangan industri tersebut. Indonesia tidak hanya mendorong pemanfaatan nikel sebagai komoditas, tetapi juga mengarahkannya menjadi bagian dari rantai pasok baterai kendaraan listrik. Area inspeksi baterai setelah melalui Welding Station di area lini produksi baterai mobil listrik Wuling “Kita sudah bisa punya baterai sendiri, katode dan anodenya juga sudah ada yang membuatnya di dalam negeri menggunakan potensi nikel yang ada di dalam negeri,” ujar Setia. Menurutnya, pengembangan industri end-of-life recycle akan melengkapi ekosistem tersebut. Dengan adanya fasilitas pengolahan baterai bekas, material yang masih memiliki nilai dapat diproses kembali sehingga mendukung keberlanjutan industri baterai nasional.