Di tengah maraknya transisi menuju kendaraan listrik, Suzuki Motor Corporation mengambil langkah berbeda: bukan sekadar membuat mobil listrik baru, tapi memberi kehidupan kedua bagi baterai lamanya. Dengan kata lain, Suzuki menemukan cara pengolahan limbah baterai. Melalui proyek unik ini, Suzuki menciptakan lampu jalan bertenaga surya yang menggunakan baterai bekas dari mobil-mobil mild hybrid. Ini membuktikan bahwa keberlanjutan tak selalu harus datang dari teknologi futuristik, dengan inovasi kreativitas dan kesadaran lingkungan yang sederhana. Dari Mobil ke Lampu Jalan tahun, Suzuki dikenal lewat teknologi Mild Hybrid dan ENE-CHARGE, yang memanfaatkan baterai lithium-ion kecil untuk membantu efisiensi bahan bakar. Akan tetapi, setelah kendaraan tersebut mencapai akhir masa pakainya, baterai-baterai kecil ini biasanya tidak lagi digunakan, meski masih bisa menyimpan daya yang cukup besar. Menurut Suzuki Motor Corporation, di sinilah ide itu muncul: Suzuki mengumpulkan baterai lithium-ion dari mobil hybrid yang sudah tidak terpakai (End-of-Life Vehicles/ELV), kemudian menggabungkannya menjadi sistem penyimpanan energi untuk lampu jalan dengan panel surya. Satu unit lampu jalan ini dibuat menggunakan baterai dari sepuluh mobil hybrid lama. Panel surya di atasnya menyerap sinar matahari di siang hari, sementara baterai bekas menyimpan energi untuk menyalakan lampu di malam hari, menciptakan sistem penerangan yang benar-benar bebas dari listrik konvensional. Lampu panel surya dari Suzuki Pilot Project di Jepang Kompas.com berkesempatan melihat langsung unit lampu jalan surya dengan baterai bekas ini. Lampu itu telah dipasang di area kantor pusat Suzuki di Hamamatsu, Jepang. Proyek ini masih dalam tahap uji coba, namun hasil awal menunjukkan efisiensi yang tinggi: lampu tetap menyala stabil sepanjang malam, bahkan saat cuaca mendung atau musim dingin dengan durasi siang yang singkat. Suzuki menyebut program ini sebagai bagian dari strategi “circular economy” — konsep ekonomi sirkular yang berfokus pada pemanfaatan kembali sumber daya agar tidak berakhir sebagai limbah. Dengan cara ini, Suzuki tidak hanya mengurangi jejak karbon, tapi juga menekan volume limbah baterai yang kian meningkat seiring populernya mobil hybrid dan listrik. Langkah Suzuki ini mungkin terlihat kecil, tapi punya arti besar untuk masa depan industri otomotif. Bagi negara-negara di Asia, termasuk Indonesia yang kini mulai dipenuhi kendaraan hybrid, ide seperti ini bisa menjadi solusi konkret untuk mengelola limbah baterai. Daripada hanya fokus membuat kendaraan listrik baru, mengembangkan sistem second-life battery seperti yang dilakukan Suzuki bisa menjadi cara cerdas memaksimalkan sumber daya yang ada. Proyek ini sejalan dengan semangat Suzuki yang mereka bawa di Japan Mobility Show 2025: “By Your Side” — selalu hadir di sisi masyarakat, bukan hanya melalui kendaraan, tapi juga melalui inovasi yang membuat hidup lebih baik. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.