Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite (RON 90) mulai terasa di berbagai daerah. Kelangkaan ini sering dengan bertambahnya Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Pertamina Signature. Untuk diketahui, SPBU Pertamina Signature hanya menjual BBM non-subsidi, yakni Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex, dan Dexlite. Kondisi ini memicu kepanikan sekaligus tanya di kalangan konsumen, apakah ini sinyal bahwa BBM sejuta umat tersebut akan segera dihapus? Tangkapan layar. Pertamina Buka Suara soal SPBU di Antasari Tak Lagi Jual Pertalite per 1 Mei 2026. Bukan rahasia lagi jika kuota Pertalite terus ditekan. Sehingga, memaksa pengendara mau tidak mau merogoh kocek lebih dalam untuk beralih ke Pertamax (RON 92). Menanggapi fenomena ini, Agus Pambagio, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) sekaligus pengamat kebijakan publik, mengatakan, Pertalite memang sejak dulu mau dihilangkan, karena BBM subsidi. "Ya, uang subsidinya enggak ada. Bahan baku BBM-nya juga enggak ada. Ya, itu kan dampak dari krisis sekarang ini," ujar Agus, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Ilustrasi pengisian BBM di SPBU Pertamina. Harga Pertalite. Tuntutan Standar Emisi Euro 4 Selain beban fiskal negara yang terus membengkak untuk menambal subsidi energi, faktor lingkungan menjadi alasan kuat mengapa eksistensi Pertalite tidak akan bertahan lama. Pemerintah sendiri telah mencanangkan transisi menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan untuk menekan polusi udara, terutama di kota-kota besar. Agus menambahkan, ke depannya memang Pertalite akan dihapuskan karena akan masuk ke standarisasi Euro 4. Sedangkan, emisi yang dihasilkan kendaraan jika menggunakan Pertalite tidak lolos Euro 4, bahkan masih Euro 2. Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pemerintah menegaskan bahwa harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan dan memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman dan tersedia. "Dia (Pertalite) masih ada timbalnya dan disubdisi. Jadi, semuanya mau masuk ke Pertamax (RON 92) minimal. Kan itu sudah rencana puluhan tahun lalu," kata Agus. Langkah penghapusan secara bertahap ini sejatinya bukan strategi baru. Skema yang sama pernah diterapkan pemerintah saat menggeser konsumsi masyarakat dari Premium (RON 88) beberapa tahun silam. Pertamax Green 95 hadir di 170 SPBU Pulau Jawa, dorong energi hijau berbasis bahan baku lokal. "Dari Jakarta dulu dihilangkan Premium, kemudian masuk ke Pertalite dulu, terus nanti Pertamax. Terus dari Jakarta ke seluruh Indonesia, akhirnya Euro 4," ujarnya. Beban Berat Pertamina Pada sisi lain, kelangkaan yang terjadi di hilir erat kaitannya dengan kondisi finansial di hulu. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah dalam menyalurkan BBM penugasan, PT Pertamina (Persero) harus menghadapi realita tata kelola kompensasi yang dinilai belum ideal. Harga BBM hari ini kembali menjadi sorotan setelah terjadi penyesuaian signifikan pada BBM nonsubsidi. PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Bagaimana dampaknya ke inflasi? Menurut Agus, tata kelola di Indonesia cukup berantakan. Seringkali, keterlambatan pencairan dana kompensasi dan subsidi dari pemerintah membuat arus kas perusahaan pelat merah tersebut menjadi seret, yang pada akhirnya mengganggu rantai pasok. "Sudah berdarah-darah Pertamina. Kan utang yang dulu-dulu juga belum dibayar. Utang-utang subsidi yang beberapa tahun lalu juga belum dibayar, ditanggung Pertamina," kata Agus. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang