Tak sedikit pengemudi mengira aquaplaning hanya terjadi saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan aquaplaning juga bisa terjadi pada kecepatan yang relatif rendah, tergantung pada kondisi ban dan permukaan jalan. “Kalau ditanya kecepatan berapa, orang biasanya selalu berpikir aquaplaning hanya terjadi pada kecepatan tinggi," kata Jusri kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026). Hujan deras selama arus balik lebaran 2023, wasbadai bahaya aquaplaning di jalan tol "Padahal, pada kecepatan 60 km/jam pun bisa terjadi, terutama jika kondisi ban tekanannya terlalu tinggi atau bannya sudah gundul. Tapak ban itu fungsinya untuk memecah dan membelah air," katanya. Jusri menjelaskan, risiko aquaplaning tidak selalu dipicu oleh kecepatan tinggi. Kondisi ban yang sudah aus juga sangat berpengaruh. "Aquaplaning bisa saja dimulai dari kecepatan 60 km/jam. Bahkan tanpa tekanan angin yang tinggi, ban yang sudah gundul saja sudah berisiko," katanya. Aquaplaning merupakan risiko yang mengintai pengendara saat berkendara di musim hujan. Menurut Jusri, lapisan air yang sangat tipis pun sudah cukup untuk memicu kondisi tersebut. "Lapisan air yang sangat tipis, sekitar satu sentimeter, bahkan kurang dari itu, sudah bisa membuat situasi aquaplaning terjadi," ujar Jusri. "Apalagi jika ban berukuran lebar. Lebar tapak ban memang memengaruhi karena daya angkat atau lift force menjadi semakin besar," ungkapnya. Ban mobil botak bisa jadi salah satu penyebab aquaplaning. Jusri menekankan, kondisi ban menjadi faktor penting dalam mencegah aquaplaning. Ban dengan tapak yang masih baik berfungsi untuk memecah air, sehingga permukaan ban tetap bisa menempel ke aspal. "Saat terjadi aquaplaning, ban yang tidak memiliki tapak, sudah gundul, tapaknya habis, itu sama saja seperti batu tipis lempeng yang besar," katanya. "Sementara itu, ban yang lebih kecil otomatis memiliki daya angkat yang lebih rendah. Jadi, lebar penampang atau tapak ban sangat memengaruhi besarnya lift force,” ujar Jusri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang