Perkembangan mobil listrik di Indonesia kian pesat, seiring hadirnya berbagai fitur bantuan berkendara canggih atau semi autonomous yang menjanjikan kenyamanan dan keselamatan. Namun, di balik kecanggihannya, fitur pintar tersebut menghadapi tantangan besar ketika dihadapkan pada karakter jalan raya Indonesia yang padat, dinamis, dan kerap tak terprediksi, mulai dari marka jalan yang memudar hingga perilaku pengguna jalan yang beragam. Menurut Sony Susmana, Direktur Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), teknologi semi autonomous pada mobil listrik sejatinya dirancang sebagai sistem bantuan, bukan pengganti penuh peran pengemudi. “Fitur ini bekerja berdasarkan sensor, kamera, dan radar yang sangat bergantung pada kondisi jalan dan disiplin lalu lintas. Di Indonesia, tantangannya besar karena banyak variabel di luar standar sistem,” kata Sony kepada Kompas.com, Kamis (1/1/2026). Sony menjelaskan, sistem seperti adaptive cruise control, lane keeping assist, hingga autonomous emergency braking bisa mengalami keterbatasan ketika marka jalan tidak jelas, permukaan jalan rusak, atau lalu lintas bercampur antara mobil, sepeda motor, dan pejalan kaki. Dalam kondisi tertentu, sistem dapat salah membaca situasi atau bahkan gagal bereaksi optimal. Interior BYD Atto 1 Masalah lain yang tak kalah penting adalah faktor pengemudi. Sony menilai, masih banyak pengguna yang belum sepenuhnya memahami cara kerja dan batasan fitur semi autonomous. Akibatnya, muncul rasa terlalu percaya diri dan kecenderungan melepas kewaspadaan. Padahal, sistem tersebut tetap membutuhkan kontrol aktif dan kesiapan pengemudi untuk mengambil alih kapan saja. “Kalau pengemudi menganggap mobil sudah sepenuhnya bisa berjalan sendiri, risikonya justru meningkat. Ketika sistem error atau tidak mampu membaca kondisi jalan, respons manusia tetap jadi penentu keselamatan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa dampak dari kesalahan sistem semi autonomous tidak hanya dirasakan oleh pengemudi mobil listrik itu sendiri, tetapi juga pengguna jalan lain di sekitarnya. Pada kecepatan tertentu, kegagalan sistem bisa berujung pada kecelakaan serius dengan konsekuensi fatal. Karena itu, Sony menekankan pentingnya edukasi menyeluruh bagi konsumen mobil listrik, khususnya terkait penggunaan fitur semi autonomous. Pemahaman manual kendaraan, simulasi penggunaan fitur, hingga kesadaran akan batas kemampuan teknologi dinilai krusial sebelum fitur tersebut digunakan di jalan umum. “Teknologi boleh maju, tapi kesiapan pengemudi dan kondisi jalan harus ikut diperhitungkan. Di Indonesia, kewaspadaan tetap nomor satu,” kata Sony. Ke depan, tantangan mobil listrik berfitur pintar di Indonesia tidak hanya soal infrastruktur pengisian daya, tetapi juga adaptasi teknologi dengan kondisi jalan serta peningkatan literasi keselamatan berkendara. Tanpa itu, fitur yang dirancang untuk melindungi justru berpotensi menjadi sumber risiko baru di jalan raya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang