Wacana pengadaan kendaraan operasional untuk Koperasi Merah Putih memunculkan pertanyaan soal skema harga, terutama kemungkinan adanya banderol grosir atah harga bulk untuk pembelian dalam jumlah besar. Menanggapi hal tersebut, PT Astra Honda Motor (AHM) menegaskan bahwa pembahasan teknis, termasuk soal harga, masih sangat terbuka dan belum memasuki tahap negosiasi detail. Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM), Octavianus Dwi, mengatakan hingga saat ini belum ada pembicaraan spesifik terkait kebutuhan unit maupun skema harga khusus. Gerai Koperasi Desa Merah Putih di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo Seperti diketahui, pemerintah tengah memperkuat operasional di berbagai lini lewat pengadaan kendaraan untuk kebutuhan fleet. Sepeda motor kabarnya bakal menjadi salah satu moda yang dipilih karena fleksibel, efisien, dan mampu menjangkau wilayah yang sulit diakses kendaraan roda empat. “Kami belum tahu spesifikasi yang dibutuhkan karena belum ada pembicaraan. Setiap perusahaan punya hitungannya sendiri, nanti akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Octa di Jakarta (25/2/2026). Honda CRF150 Menjadi Motor Ambulans di Larantuka Pernyataan ini menegaskan bahwa potensi harga grosir sangat bergantung pada spesifikasi unit, volume pembelian, serta skema kerja sama yang disepakati nantinya. Dalam praktiknya, pembelian fleet memang umumnya membuka ruang negosiasi harga, namun tetap memperhitungkan struktur biaya produksi, distribusi, hingga layanan purnajual. Di sisi lain, Agrinas selaku penyedia kendaraan untuk Koperasi Merah Putih disebut sempat berdiskusi dengan sejumlah merek mobil yang sudah diproduksi secara lokal. Namun pembicaraan tersebut tidak berujung kesepakatan harga. Ilustrasi Honda Revo di main dealer Wahana Honda Informasi yang beredar menyebutkan, salah satu kendala utama adalah tidak tersedianya skema pembelian grosir dari merek-merek tersebut. Artinya, belum ada format harga khusus untuk pembelian dalam jumlah besar sebagaimana lazim dalam pengadaan fleet skala nasional. Situasi ini membuat skema harga menjadi titik krusial dalam proses negosiasi. Tanpa fleksibilitas harga untuk volume besar, pengadaan kendaraan operasional tentu akan menghadapi tantangan dari sisi efisiensi anggaran. Deretan motor sport dan bebek Honda di diler Wahana Honda Meski belum ada kesepakatan khusus untuk Koperasi Merah Putih, segmen fleet sejatinya bukan pasar kecil bagi AHM. “Mungkin sekitar 5-6 persen. Model yang biasanya berjalan untuk kategori cub (bebek) adalah Revo atau Supra, sedangkan untuk kategori sport biasanya CB150 Verza atau CRF150,” kata Octa. Dengan porsi tersebut, kontribusi segmen fleet diperkirakan berada di kisaran 245.000 hingga 294.000 unit per tahun, dengan angka penjualan total sekitar 4,9 juta unit pada 2025. Angka ini menunjukkan bahwa pasar kendaraan operasional, baik untuk instansi pemerintah, swasta, maupun lembaga tertentu, turut menjadi salah satu penopang volume penjualan roda dua nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang