PT Astra Honda Motor (AHM) menyatakan kesiapannya untuk mendukung program pengadaan kendaraan operasional, termasuk wacana pengadaan sepeda motor untuk Koperasi Desa (Kopdes Merah Putih.Direktur Pemasaran PT AHM, Octavianus Dwi, menjelaskan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap kebutuhan instansi atau organisasi desa seperti Kopdes Merah Putih, meskipun saat ini prosesnya masih dalam tahap pemantauan pasar."Kami pasti support, kita ikuti proses, dan lainnya. Nanti dilihat saja, belum ada yang mau beli," ungkap Octa di Jakarta Pusat, belum lama ini. Dalam skema penjualan fleet (borongan), AHM mencatat bahwa kebutuhan untuk operasional di daerah biasanya jatuh pada model-model yang memiliki durabilitas tinggi. Untuk Koperasi Desa yang menjangkau pelosok, Honda menjagokan segmen underbone dan sport mesin kecil."Kalau fleet itu, kalau underbone itu Revo atau Supra, kalau sport itu Verza atau CRF. Kalau sekarang yang dominan (untuk operasional) adalah Revo dan Verza," tambah Octa.Saat ini, kontribusi segmen fleet terhadap total penjualan Honda berada di angka 5-6 persen.Hingga saat ini, pihak AHM masih menunggu pembicaraan lebih lanjut mengenai spesifikasi detail yang diinginkan PT Agrinas Pangan Nusantara, pelaksana utama pembangunan Kopdes Merah Putih."Kita belum tahu spek yang dibutuhkan, belum pernah ada pembicaraan," kata Octa.Namun diketahui, PT Agrinas Pangan Nusantara juga melakukan pengadaan untuk sepeda motor roda tiga untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Sebagian kebutuhan tersebut didapat dari impor. Selain impor, motor tiga roda untuk kebutuhan Kopdes Merah Putih akan dipenuhi oleh pabrikan lokal."Sepeda motor tiga rodanya sama, (total berjumlah) 160 ribu juga. Dari semua produsen di Indonesia sudah kita pesan juga," ujar Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota saat ditemui di Cawang, Jakarta Timur, Kamis (26/2/2026).Joao mengungkapkan bahwa pihaknya sebenarnya sudah menghubungi seluruh produsen motor roda tiga yang ada di Indonesia. Namun, pesanan yang membludak membuat lini produksi lokal kewalahan."Viar, Kaisar, terus Ace, di depan ada TVS, mereka juga tidak mampu produksi yang banyak. Sisanya kita pesannya dari luar, kita impor terpaksa, karena mereka sudah tidak mampu lagi (produksi lokal)," tambah dia.Joao tidak menjelaskan lebih lanjut bagaimana proporsi pengadaan motor roda tiga tersebut. Berapa banyak yang diimpor dan berapa banyak yang produksi lokal.