Pabrik perakitan Mitsubishi Fuso di Indonesia Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, Kukuh Kumara menjelaskan, industri otomotif nasional sejatinya memiliki fondasi yang kuat dan sejarah panjang, terutama dari sektor kendaraan niaga. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Industri kendaraan bermotor di Indonesia itu diawali dari kendaraan niaga. Perjalanannya sudah lebih dari 50 tahun,” ujar Kukuh di Kemayoran, Jakarta, Kamis 9 April 2026.Namun saat ini, kondisi industri tidak sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang dimiliki. Secara total, kapasitas produksi otomotif nasional mencapai sekitar 2,59 juta unit per tahun. Sayangnya, realisasi produksi masih jauh di bawah angka tersebut, yakni hanya sekitar 1,3 hingga 1,4 juta unit per tahun.Artinya, sebagian besar fasilitas produksi belum dimanfaatkan secara optimal. Kukuh menyebut, utilisasi pabrik di sejumlah produsen kendaraan niaga bahkan masih berada di bawah 50 persen.Kondisi ini dinilai berpotensi berdampak pada tenaga kerja. Meski jumlah pekerja langsung di industri kendaraan bermotor tercatat sekitar 5.000 orang, efek sebenarnya jauh lebih luas karena melibatkan industri komponen, distribusi, hingga layanan purna jual.“Yang bekerja langsung mungkin sekitar 5.000 orang, tapi di belakangnya ada industri komponen, bengkel, dan lainnya. Itu besar sekali dampaknya,” kata dia.Penurunan aktivitas produksi berisiko memicu langkah efisiensi dari perusahaan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berujung pada pengurangan tenaga kerja jika tidak segera diatasi.Salah satu faktor yang menekan industri dalam negeri adalah meningkatnya impor kendaraan niaga dalam kondisi utuh atau completely built up (CBU). Menurut Kukuh, produk impor tersebut memiliki daya saing harga yang tinggi sehingga sulit ditandingi oleh produk lokal.“Begitu volume impor meningkat, penjualan produk dalam negeri otomatis tertekan,” ujarnya.Situasi ini semakin memperparah kondisi pasar yang memang sedang melemah dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan kendaraan nasional yang sebelumnya berada di kisaran 1 juta unit lebih per tahun, kini turun menjadi sekitar 800 ribuan unit.Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan penumpang, tetapi juga sektor kendaraan niaga yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi.Di sisi lain, Kukuh menegaskan bahwa industri otomotif Indonesia sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik. Program hilirisasi dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga terus berjalan.Namun, jika tekanan dari impor tidak terkendali, dikhawatirkan industri dalam negeri akan semakin tergerus. Bahkan, bukan tidak mungkin pabrikan akan mempertimbangkan untuk mengurangi produksi atau memindahkan investasi ke negara lain.“Kalau pabrik sampai tutup, itu sangat sulit untuk kembali lagi. Kita bisa kehilangan banyak lapangan kerja,” tutur dia. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Karena itu, ia mendorong adanya penegakan regulasi yang lebih ketat, khususnya terkait impor kendaraan. Selain itu, keseimbangan antara produk lokal dan impor perlu dijaga agar persaingan tetap sehat.Di tengah tantangan yang ada, menjaga keberlangsungan industri kendaraan niaga dinilai menjadi kunci, bukan hanya bagi sektor otomotif, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia.