Indonesia bukan sekadar pengguna sepeda motor yang masif, melainkan sudah menjadi salah satu poros kekuatan industri roda dua di panggung global. Hal ini mengemuka dalam acara Berkampus Ria hasil kolaborasi AHM dan Kompas.com bertajuk "Bagaimana Industri Otomotif Menggerakkan Ekonomi Indonesia" yang digelar di Kampus Unika Atma Jaya, Cisauk, Banten, Rabu (8/7/2026). Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM), memaparkan bahwa posisi strategis Indonesia di kancah internasional patut menjadi kebanggaan bersama. Ilustrasi kendaraan pemudik terjebak kemacetan saat melintas di Jalan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. "Kita harus bangga dan bersyukur. Ternyata Indonesia ini adalah market terbesar ketiga di dunia. Dengan total kalau tahun lalu 6,4 juta [unit]," ujar pria yang akrab disapa Muhib, Rabu (8/7/2026). Dengan angka penjualan yang menembus jutaan unit tersebut, posisi Indonesia secara global hanya berada di bawah India dan China sebagai pasar roda dua paling raksasa. Magnet Investasi Global Potensi pasar yang begitu masif di tanah air nyatanya tidak hanya menguntungkan pelaku industri lokal, tetapi juga menjadi daya tarik bagi para investor dari berbagai belahan dunia. Skala ekonomi yang besar ini membuat pabrikan global menanamkan modal dan menghadirkan produk terbaru mereka di Indonesia. Honda CUV e: tampil di GIIAS 2025 Menariknya, daya tarik ini sekarang tidak lagi didominasi oleh kendaraan berbahan bakar fosil saja, melainkan juga mulai bergeser ke arah elektrifikasi. "Makanya belakangan ini tidak hanya motor-motor yang konvensional yang teman-teman lihat, bahkan motor-motor listrik pun ramai berdatangan ke Indonesia karena Indonesia memang memiliki potensi market yang sangat besar di dunia," jelas Muhib. Mengapa Produsen Lebih Fokus Garap Pasar Domestik? Melihat peta industri global, muncul pertanyaan mengapa motor buatan Indonesia belum mendominasi jalanan luar negeri secara masif. Menjawab hal ini, Muhib membeberkan strategi dari para produsen sepeda motor yang beroperasi di Tanah Air, termasuk AHM. Industri roda dua di dalam negeri ternyata masih memprioritaskan pasokan untuk memenuhi kebutuhan konsumen domestik terlebih dahulu. Konsumsi masyarakat Indonesia yang sangat tinggi membuat kapasitas produksi terserap habis untuk memenuhi pasar lokal. "Kita bukan tidak mampu untuk ekspor, tapi memang permintaan di dalam negeri ini jauh lebih besar, harus dipenuhi dibandingkan kita untuk ke market ekspor," ungkap Muhib. Meski fokus pada pasar lokal, taji industri otomotif Indonesia di pasar internasional tetap terlihat. Muhib menambahkan bahwa kinerja pengapalan unit ke luar negeri masih berjalan konstan di angka yang cukup menjanjikan. "Market ekspor kita setahun kira-kira di angka 500.000-an [unit]. Jadi memang konsentrasi kita ke pasar domestik," pungkasnya.