Akselerasi adopsi motor listrik berbasis baterai di Indonesia saat ini masih menemui jalan berliku. Di tengah dinamika kepastian skema insentif dari pemerintah, pertanyaan kerap muncul di kalangan calon konsumen, apa sebenarnya yang menjadi batu sandungan terbesar pasar roda dua elektrik saat ini? Masalah harga produk atau infrastrukturnya? Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi, memberikan pandangan mendalam mengenai peta kendala sekaligus strategi adaptasi yang tengah berjalan di sektor industri. Tiga motor listrik baru VinFast di Indonesia Menurutnya, persepsi masyarakat secara perlahan mulai bergeser berkat penetrasi varian kendaraan listrik lain yang lebih masif di akar rumput. Edukasi Pasar Lewat Fenomena Sepeda Listrik Budi menjelaskan bahwa ketakutan masyarakat akan aspek infrastruktur sebenarnya bisa terkikis secara natural melalui edukasi yang konsisten. Menariknya, motor penggerak edukasi ini justru disumbang secara tidak langsung oleh maraknya penggunaan sepeda listrik. Penetrasi sepeda listrik yang sudah menyentuh wilayah pedesaan dan perkampungan dinilai memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat tentang efisiensi kendaraan listrik. Konsumen mulai menyadari bahwa operasional kendaraan berbasis baterai sejatinya jauh lebih simpel dan hemat jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional. "Itu (sepeda listrik) minimal mengedukasi juga kenyataan menggunakan sepeda listrik lebih simple, lebih efisien. Jadi kepercayaan masyarakat untuk sepeda motor listrik semakin baik," ujar Budi kepada Kompas.com, Minggu (19/7/2026). Dampak psikologis yang positif dari penggunaan sepeda listrik ini secara bertahap menumbuhkan rasa percaya diri konsumen untuk beralih ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu motor listrik untuk mobilitas harian yang lebih dinamis. Siasat Menekan Harga Baterai yang Mahal Jika isu ketakutan akan infrastruktur mulai terurai lewat edukasi, bagaimana dengan faktor harga? Tidak dapat dimungkiri bahwa tingginya harga jual motor listrik sebagian besar dipicu oleh harga komponen baterai. Komponen vital ini menyumbang porsi biaya yang signifikan, bahkan bisa mencapai 30 persen dari total biaya produksi satu unit kendaraan. Untuk menjembatani jurang harga dengan motor bensin, pihak pabrikan kini mulai gencar menerapkan strategi bisnis baru, salah satunya adalah pemisahan kepemilikan unit motor dengan baterai lewat skema sewa baterai. "Sekarang sudah mulai banyak yang memperlakukan satu skema terkait sewa baterai, jadi motor dijual tanpa baterai karena memang harga mahal kan baterai, bisa mencapai 30 persen," kata Budi. Melalui skema ini, konsumen dapat menebus unit motor listrik dengan harga yang jauh lebih terjangkau di awal, sementara untuk kebutuhan dayanya, mereka cukup membayar biaya sewa baterai secara berkala sesuai penggunaan.