Lonjakan harga oli mesin di pasaran ternyata memberikan dampak signifikan terhadap perilaku para pemilik kendaraan harian. Saat berkunjung ke bengkel untuk perawatan berkala, konsumen kini cenderung makin mengirit dan memilih menunda perbaikan komponen lain. Fenomena perubahan kebiasaan ini dirasakan langsung oleh Febri, pemilik bengkel Aneka Motor yang berlokasi di Bogor. Ia menyebutkan bahwa pengunjung bengkelnya kini sangat spesifik hanya melakukan pengerjaan yang benar-benar dibutuhkan. Ilustrasi ganti oli transmisi mobil CVT Hanya Fokus Ganti Oli Febri menjelaskan bahwa pada kondisi normal, pengerjaan ganti oli mesin umumnya menjadi pintu masuk bagi pemilik mobil untuk melakukan pengecekan dan perbaikan sektor lainnya. Namun, situasi tersebut berbalik seiring merangkaknya harga pelumas. “Dulu oli itu seperti pembuka untuk perbaikan yang lain. Dari ganti oli, mungkin lanjut cek atau ganti komponen lain. Kalau sekarang tidak, orang benar-benar spesifik ganti oli saja karena harganya sudah mahal,” ujar Febri kepada Kompas.com, belum lama ini. Kenaikan harga oli mesin dinilai amat tinggi, khususnya untuk spesifikasi viskositas encer yang populer digunakan pada mobil-mobil modern, seperti SAE 5W-30. “Kenaikannya lumayan gila-gilaan. Oli seperti SAE 5W-30 per liternya naik sekitar Rp 20.000. Kalau mobil butuh empat liter, kenaikan biayanya saja sudah hampir Rp 100.000,” katanya. Untuk menyiasati pembengkakan biaya tersebut, beberapa konsumen bahkan memilih opsi melakukan downgrade merek oli ke yang lebih terjangkau, meski tetap mempertahankan spesifikasi kekentalan yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Tunda Gantian Suku Cadang Lain Dampak dari tingginya biaya penggantian oli ini turut merembet pada penundaan penggantian suku cadang pendukung lainnya. Komponen yang biasanya diganti bersamaan saat servis berkala seperti filter udara, filter oli, hingga kampas rem kini baru diganti jika kondisinya sudah sangat mendesak. Perilaku mengirit ini bahkan berdampak hingga ke sektor perawatan ban kendaraan. “Dulu orang masih biasa ganti ban langsung dua. Sekarang terasa sekali efeknya, orang benar-benar menunda sampai bannya rusak parah atau pecah baru ganti satu,” ucap Febri. Jadi memang terasa dampaknya kenaikan harga oli mesin ke penjualan suku cadang lain. Bahkan orang jadi pikir-pikir lagi kalau mau tambah pengecekan komponen lainnya atau tidak.