Penetrasi sepeda motor listrik di Indonesia masih menemui benteng tebal di masyarakat. Meski berbagai promosi hingga pemangkasan harga gencar dilakukan, adopsi kendaraan roda dua berbasis baterai ini dinilai belum sepenuhnya siap menggantikan posisi motor bensin bagi segmen middle-low. Pengamat Otomotif Yannes Martinus mengungkapkan, ada deretan hambatan riil yang membuat motor listrik belum cocok untuk kelompok masyarakat menengah ke bawah, mulai dari masalah kapasitas listrik rumah tangga, skema kredit, hingga ekosistem purna jual. Komparasi motor listrik Polytron Fox 350 dan VinFast Evo Daya Listrik Rumah Yannes menjelaskan, sekitar 80 persen pengisian daya kendaraan listrik dilakukan di rumah. Namun, hal ini menjadi kendala teknis yang nyata bagi konsumen kelas pekerja yang daya listrik kediamannya masih terbatas. "Mengingat sekitar 80 persen charging dilakukan di rumah, untuk middle low class yang umumnya tinggal di rumah dengan daya listrik antara 450W-900W tentunya charging motor listrik yang membutuhkan daya sekitar 400W jelas jadi hambatan yang riil," ujar Yannes saat dihubungi Kompas.com belum lama ini. Hambatan pengisian mandiri ini makin berat karena fasilitas penukaran baterai (battery swap) maupun SPKLU belum merata ke pemukiman padat. "Sementara infrastruktur SPKLU ataupun swap masih sangat terkonsentrasi di spot area perkotaan saja," tambahnya. Bukan Sekadar Transportasi, tapi Aset Likuid Bagi masyarakat menengah ke bawah, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi harian, melainkan aset produktif untuk mencari nafkah sekaligus simpanan yang bisa disulap jadi uang tunai saat butuh dana darurat. Sayangnya, pasar motor listrik bekas saat ini belum terbentuk dan belum memiliki standar sertifikasi kesehatan baterai yang terpercaya. Ketiadaan kepastian nilai jual kembali ini berdampak pada keengganan perusahaan pembiayaan (multifinance) dalam memberikan skema kredit murah. "Perusahaan pembiayaan menetapkan DP, bunga, dan tenor berdasarkan nilai agunan yang bisa dieksekusi kalau macet. Tanpa pasar bekas yang likuid, unit tarikan tidak punya harga. Konsekuensinya multifinance menolak, atau menuntut DP dan bunga yang lebih tinggi," tegas Yannes. Ilustrasi jual beli motor listrik bekas. Krisis Montir dan Bengkel Resmi Faktor penentu lainnya adalah ekosistem purna jual (Sales, Service, Spareparts) yang belum matang jika dibandingkan dengan motor bensin konvensional. "Kemudian masalah ekosistem 3S motor listrik belum sedalam dan seluas motor bensin. Sebagai catatan, saat ini jumlah bengkel resmi motor listrik dan jumlah montir EV tersertifikasi masih jarang," ungkap Yannes. Bagi kelompok menengah ke bawah, kendaraan yang tertahan lama di bengkel akibat langkanya montir atau suku cadang berdampak langsung pada terhentinya mata pencaharian harian. Oleh sebab itu, Yannes menyimpulkan bahwa kunci penetrasi motor listrik di segmen ini bukan sekadar mengandalkan iming-iming penghematan energi jangka panjang. Industri harus bisa membuktikan bahwa motor listrik sama praktisnya, aman, mudah diperbaiki, dan menawarkan keunggulan ekonomis secara langsung sejak pembayaran DP serta cicilan pertama.