Penerapan kebijakan ganjil-genap di Jakarta dinilai masih memiliki sejumlah celah yang membuat efektivitasnya dalam mengendalikan kepadatan lalu lintas belum maksimal. Akademisi Prodi Teknik Sipil sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menilai salah satu persoalan terletak pada waktu pemberlakuan yang tidak berlangsung sepanjang hari. Menurut dia, pembatasan pada jam tertentu memang dapat membuat arus lalu lintas lebih lancar. Namun, ketika pembatasan berakhir, kepadatan kembali terjadi karena pengguna kendaraan kembali memenuhi ruas jalan. Ilustrasi lalu lintas, kondisi transportasi publik di Jakarta. Sistem ganjil genap di Jakarta ditiadakan sementara pada 18?24 Maret 2026 selama libur Nyepi dan Idul Fitri. “Mungkin pas berangkatnya tidak macet, pulangnya semrawut. Karena ada celah, hanya jam-jam tertentu. Mestinya dari jam 06.00 pagi sampai jam 09.00 malam. Sangat efektif,” ujar Djoko kepada Kompas.com (6/10/2026). Celah Waktu hingga Mobil Listrik Jadi Sorotan Menurut Djoko, pemberlakuan ganjil-genap secara terbatas membuat kebijakan tersebut belum sepenuhnya mampu mengendalikan pergerakan kendaraan sepanjang hari. Selain persoalan waktu, ia juga menyoroti pengecualian terhadap mobil listrik. Menurutnya, jumlah kendaraan listrik yang terus bertambah, terutama di Jakarta, membuat pengecualian tersebut berpotensi mengurangi efektivitas pembatasan. Ilustrasi tol dalam kota. “Ya, kalau kita mau seperti Asian Games 2018, modelnya seperti itu, ya kita melihat mobil listrik juga diberlakukan ganjil genap,” ujar Djoko. Ia menilai seluruh kendaraan semestinya menjadi bagian dari skema pembatasan apabila tujuan utamanya adalah mengendalikan volume kendaraan dan mengurai kemacetan. Sementara itu, kebijakan untuk mendorong kendaraan rendah emisi dapat ditempuh melalui instrumen lainnya. Deretan contoh hasil cetak plat nomor kendaraan sipil, dinas instansi, hingga plat khusus kendaraan listrik yang dipajang memenuhi bagian depan dan samping sebuah lapak semi-permanen di pinggir Jalan Matraman, Jakarta Timur, Jumat (15/5/2026). Pelat Nomor Bisa Jadi Celah untuk Mengakali Aturan Persoalan lain yang disoroti adalah potensi penyalahgunaan pelat nomor untuk menghindari aturan ganjil-genap. Djoko mengatakan lemahnya pengawasan dan pola aturan yang sudah lama tidak berubah dapat mendorong sebagian pengguna kendaraan mencari cara untuk tetap melintas. “Semua mobil Jakarta pelat nomornya ganda kok. Saya naik mobil di Jakarta, sopirnya ganti pelat nomor dulu. Banyak yang ketangkap tuh,” katanya. Ilustrasi ganjil genap Jakarta Djoko kemudian membandingkan sistem tersebut dengan penerapan pembatasan kendaraan di China. Menurut dia, kombinasi angka pelat nomor di negara tersebut dapat berubah secara berkala, sehingga pengguna kendaraan tidak mudah memprediksi pola pembatasan. “Kalau sekarang kan tetap nih ganjil genap mulai dari tahun pertama sampai tahun ke-10 ya gitu aja. Kalau di China, dia berubah-berubah (angka kombinasi pelat nomor),” ujar Djoko. Menurut dia, perubahan pola pembatasan secara berkala dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi celah bagi masyarakat yang ingin mengakali aturan. Dengan demikian, efektivitas kebijakan tidak hanya bergantung pada durasi pemberlakuan, tetapi juga pada desain aturan dan pengawasan di lapangan.