Warganet menduga motor listrik untuk program makan bergizi gratis (MBG) merupakan motor listrik asal China yang kemudian di-branding menjadi merek Emmo. Ternyata praktik branding produk white label motor China sudah umum di Indonesia. Ini menjadi pertanyaan buat kendaraan yang diklaim sebagai produk dalam negeri tapi pada kenyataannya pakai komponen inti dari China.Muncul dugaan motor listrik Emmo JVX GT buat program MBG adalah rebranding dari produk China, Kollter ES1-X PRO, yang harganya jauh lebih terjangkau. Dilihat dari laman marketplace Alibaba, Kollter ES1-X PRO dibanderol Rp 10 jutaan untuk pembelian satu unit. Namun, untuk pembelian dua unit, harganya diskon menjadi hanya Rp 8 jutaan. Motor listrik diduga mirip EMMO JVX GT. Foto: Doc. AlibabaPegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik) Hendro Sutono mengatakan, pada industri kendaraan listrik praktik rebranding dari produk white label memang sudah jamak terjadi. White label di sini maksudnya motor buatan China diproduksi tanpa menggunakan merek, kemudian di-branding oleh perusahaan lain."Praktik umum," kata Hendro kepada detikOto. "Justru lebih mudah menyebutkan yang murni rancang bangun dari lokal Indonesia," sambung Hendro.Artinya, banyak motor listrik di Indonesia yang merupakan hasil rebranding dari motor listrik 'white label' China. "Tapi kemudian ada beberapa yang mulai diproduksi lokal. Ada komponen yang mulai (dibuat lokal) dari produksi rangka, body, velg," katanya.Klaim tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) motor listrik Emmo yang mencapai 48,5 persen pun menjadi pertanyaan. Hendro menilai TKDN bukan mengukur seberapa 'Indonesia' sebuah produk secara teknologi. Katanya, TKDN saat ini mengukur seberapa besar nilai rupiah yang berputar di dalam negeri selama proses produksinya."Dua hal yang terdengar mirip, tapi sesungguhnya sangat berbeda," katanya.Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 28 Tahun 2023 yang mengatur khusus kendaraan listrik, perhitungan TKDN motor listrik roda dua dibangun dari empat aspek: manufaktur komponen utama (bobot 50%), perakitan (30%), komponen pendukung (10%), dan riset pengembangan (10%)."Sekarang mari kita hitung dengan jujur. Jika Emmo membangun pabrik perakitan di Citeureup, Jawa Barat, maka dari aspek perakitan saja mereka sudah bisa mengklaim nilai yang signifikan. Tenaga kerja Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di lini produksi, bangunan pabrik yang berdiri di atas tanah Indonesia, mesin-mesin yang dialiri listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN), air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat, semua itu masuk sebagai komponen dalam negeri. Bahkan sebelum satu pun komponen fisik dihitung, nilai perakitan ini sudah menyumbang belasan persen terhadap total TKDN," kata Hendro dikutip dari tulisan pribadinya.Kemudian ada tambahan penggunaan produk dalam negeri seperti ban. Ketika Emmo membeli ban dari pemasok lokal, porsi komponen pendukung ikut terdongkrak."Tambahkan baterai. Ini yang paling sering disalahpahami. Sel baterai litium memang hampir seluruhnya masih diimpor dari China, tidak ada yang bisa membantah itu, termasuk saya. Tapi begitu sel itu diimpor oleh importir resmi yang telah menyelesaikan seluruh kewajiban bea masuk, PPN impor, dan PPh Pasal 22, lalu dijual ke Emmo sebagai pemasok dalam negeri, maka dalam struktur biaya produksi Emmo, baterai itu tercatat sebagai pembelian dari entitas Indonesia. Proses pack assembly -- merakit sel menjadi baterai pack, memasang Battery Management System (BMS), casing, sistem pendingin -- yang dilakukan di Indonesia menambah nilai lokal di atas nilai sel itu sendiri," katanya.Soal riset dan pengembangan, Permenperin memberi bobot 10 persen. Menurut Hendro, cukup dengan menunjukkan proses sertifikasi kendaraan di Indonesia, pengujian di laboratorium lokal, perencanaan produk yang terdokumentasi, nilai riset dan pengembangan (research and development/R&D) ini bisa diklaim sebagian besar tanpa harus membangun fasilitas riset."Ketika semua pos ini dijumlahkan, angka 48,5% bukan hanya masuk akal. Secara matematis Emmo bahkan berpotensi mencapai angka yang lebih tinggi dari itu," sebut Hendro.Sayangnya, perhitungan TKDN itu membuat gelisah. Soalnya, komponen-komponen inti motor listrik seperti sel baterai, motor Brushless Direct Current (BLDC), controller, rangka, sistem elektronik, mungkin diimpor dari China melalui importir resmi yang berdomisili di Indonesia."Secara regulasi, produk itu adalah 'produk dalam negeri' yang sah, layak masuk e-katalog, dan berhak diikutsertakan dalam pengadaan pemerintah senilai berapa pun. Tapi tidak satu pun teknologi kritis yang dikuasai Indonesia. Tidak satu pun insinyur Indonesia yang tahu cara mendesain sel baterai. Tidak satu pun pabrik komponen strategis yang tumbuh dari proyek ini. Jika besok China memutus suplai, seluruh rantai produksi motor 'lokal' itu kolaps dalam hitungan minggu," kata Hendro.Menurutnya, ini yang oleh para ekonom industri disebut sebagai shallow industrialization alias industrialisasi dangkal. TKDN hanya dihitung berdasarkan nilai uang yang berputar di dalam negeri, sedangkan kedalaman penguasaan teknologinya tidak pernah benar-benar diukur.Sayangnya, Indonesia belum memiliki definisi yang cukup tajam tentang apa artinya 'industri dalam negeri' yang sesungguhnya. "Selama TKDN hanya mengukur perputaran nilai uang dan bukan kedalaman penguasaan teknologi, kita akan terus menghasilkan produk yang Indonesia di atas kertas, tapi China di dalam mesinnya," sebut Hendro.