Kendaraan tarikan leasing umumnya berasal dari debitur yang tidak mampu melanjutkan pembayaran angsuran bulanan. Namun, kondisi ini tak jarang dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk menggunakan kendaraan baru dalam jangka pendek, khususnya saat momen mudik Lebaran. Pada tahun-tahun sebelumnya, sempat marak fenomena membeli mobil atau motor baru beberapa saat sebelum Hari Raya. Mobil tarikan leasing di balai lelang Setelah kendaraan diserahterimakan dan dipakai untuk perjalanan ke kampung halaman, pemilik sengaja menunggak cicilan hingga akhirnya unit tersebut ditarik kembali oleh pihak perusahaan pembiayaan (leasing). Lantas, apakah fenomena "meminjam" kendaraan baru lewat skema kredit lalu dibiarkan ditarik ini masih sering terjadi hingga sekarang? Beda Nasib Motor dan Mobil Marketing Balai Lelang Megatama (Otolink), Agus Salim, membeberkan bahwa fenomena tersebut pada dasarnya memang pernah membuat stok unit tarikan leasing menumpuk di tempat lelang, terutama untuk kategori sepeda motor. "Kebetulan waktu itu (setelah Lebaran) memang banyak (menumpuk) motor tarikan leasing," ujar Agus kepada Kompas.com, Senin (5/10/2026). Menurut Agus, besaran uang muka (down payment/DP) menjadi faktor utama yang membedakan tren tarikan leasing antara sepeda motor dan mobil usai Lebaran. Untuk sepeda motor, syarat awal yang sangat terjangkau membuat sebagian konsumen tidak terlalu pusing jika kendaraan akhirnya ditarik kembali. "Kalau mobil, karena dari pihak leasing sudah DP-nya agak lumayan. Motor kan ibarat Rp 500.000 sampai Rp 1 juta saja sudah dapat nih," kata dia. Mobil bekas tarikan leasing di balai lelang Sewa Mobil Lebih Masuk Akal Berbeda dengan sepeda motor, fenomena sengaja membiarkan mobil ditarik leasing setelah dipakai mudik tergolong jarang terjadi sekarang. Besaran DP mobil yang mencapai puluhan juta rupiah menjadi pertimbangan berat bagi konsumen. "Kalau mobil kayaknya kurang banyak. Karena sudah sayang, DP-nya sudah Rp 20 juta sampai Rp 30 juta, cuma dipakai pulang kampung saja (jadi rugi)," kata Agus. Ia menambahkan, konsumen saat ini sudah semakin kritis dalam memperhitungkan kalkulasi finansial. Untuk kebutuhan transportasi temporer seperti mudik Lebaran, menyewa mobil dari penyedia jasa rental jauh lebih hemat ketimbang mengorbankan uang muka kredit mobil baru. Ilustrasi jasa sewa mobil "Rental bisa paling Rp 5 juta sampai Rp 10 juta dapat, daripada sudah DP besar terus ditarik, kan sayang," ucap Agus. Pergeseran pola ini menunjukkan bahwa konsumen mobil kini cenderung lebih rasional dalam memperhitungkan dampak finansial jangka panjang. Dengan opsi rental yang kian beragam dan mudah diakses, masyarakat lebih memilih menyewa kendaraan untuk kebutuhan mudik daripada harus merugi puluhan juta rupiah akibat uang muka hangus dan riwayat kredit yang buruk di leasing.