MotoGP mulai mempertimbangkan penerapan batas anggaran atau bujet cap seperti yang sudah lebih dulu diterapkan di Formula 1 (F1). Wacana tersebut dikonfirmasi Sporting Director MotoGP, Carlos Ezpeleta. Menurut dia, aturan ini dapat memberikan manfaat bagi pabrikan dan keberlangsungan kejuaraan dalam jangka panjang. Ezpeleta mengatakan, penerapan batas anggaran di MotoGP bukan perkara mudah. Pasalnya, setiap konstruktor memiliki latar belakang perusahaan, struktur organisasi, serta cara kerja yang berbeda. Dorna Chief Sporting Officer Carlos Ezpeleta memuji infrastruktur Pertamina Mandalika International Circuit yang semakin baik dari sebelumnya. "Itu adalah tujuan yang sangat ambisius karena para konstruktor MotoGP berasal dari perusahaan, latar belakang, dan memiliki struktur organisasi yang berbeda," ujar Ezpeleta, dikutip dari Crash, Kamis (13/8/2026). "Hal ini perlu dipelajari, tetapi jika ada kemauan, pasti ada jalan," katanya. Terinspirasi Formula 1 Formula 1 telah menerapkan batas anggaran sejak 2021. Aturan tersebut mencakup sebagian besar pengeluaran yang berkaitan dengan pengembangan dan performa mobil. Namun, tidak semua biaya masuk dalam batas anggaran. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) merayakan kemenangan di MotoGP Ceko 2026 di Sirkuit Brno, Republik Ceko, pada 21 Juni 2026. (Foto oleh Michal Cizek / AFP) Gaji pebalap, tiga staf dengan bayaran tertinggi, pemasaran, serta biaya perjalanan tidak termasuk dalam aturan tersebut. Pengeluaran tim kemudian diawasi oleh FIA melalui proses audit keuangan. Penerapan aturan tersebut dinilai membantu menciptakan persaingan yang lebih sehat di F1. Selain itu, batas anggaran juga disebut dapat mendorong pabrikan atau tim baru untuk masuk ke kejuaraan. Tim yang sudah berkompetisi juga tidak harus mengeluarkan seluruh anggaran yang dimiliki hanya untuk mengejar pengembangan mobil dan mempertahankan posisi di papan atas. MotoGP MotoGP Aragon Meski demikian, Ezpeleta menegaskan bahwa rencana batas anggaran MotoGP bukan muncul karena adanya masalah kesenjangan performa di lintasan. Menurut dia, persaingan MotoGP saat ini justru menunjukkan bahwa pabrikan dengan anggaran lebih besar tidak selalu menjadi yang paling kompetitif. "Itu diperlukan karena beberapa alasan. Kami tidak memiliki masalah di lintasan. Hal itu sangat penting untuk digarisbawahi," katanya. "Anda bisa melihat sekarang bahwa beberapa pabrikan mampu mengungguli mereka yang memiliki anggaran lebih besar," kata Ezpeleta. Augusto Fernandez saat sesi tes motor MotoGP 850 cc di Sirkuit Brno Performa Aprilia pada MotoGP musim ini menjadi salah satu contoh yang mampu menunjukkan performa kompetitif meski berhadapan dengan sejumlah konstruktor yang memiliki sumber daya lebih besar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan di MotoGP tidak semata-mata dapat dibeli dengan anggaran besar. Namun, Ezpeleta menilai masih ada peluang untuk membuat penggunaan anggaran para pabrikan menjadi lebih efisien. "Menurut saya, yang penting adalah membangun alasan yang jelas mengenai bagaimana dan mengapa kami melakukan ini," ujarnya. "Kami memiliki peluang di depan mata. Saya percaya beberapa pabrikan memiliki ruang yang cukup besar untuk mengurangi anggaran mereka," kata Ezpeleta. Dukungan Wacana penerapan bujet cap di MotoGP juga mendapat dukungan dari Guenther Steiner, mantan bos tim F1 Haas yang kini menjadi pimpinan baru Tech3 KTM. Steiner sebelumnya menyampaikan pandangannya ketika menolak usulan penggunaan satu motor untuk setiap tim di MotoGP. Menurut dia, jika tujuan utamanya adalah mengurangi biaya operasional, pembatasan anggaran merupakan solusi yang lebih sederhana. "Jika Anda ingin menghemat uang, solusinya sangat mudah: batas anggaran," kata Steiner. "Kita semua tahu bahwa aturan tersebut sudah berhasil diterapkan di Formula 1 dengan hasil yang sangat baik," katanya.