Industri kendaraan listrik di Indonesia mulai memasuki tahap lokalisasi komponen yang lebih dalam. Salah satunya terlihat dari penggunaan baterai produksi dalam negeri oleh sejumlah merek kendaraan listrik. PT Gotion Indonesia Materials, bagian dari Gotion High-Tech asal China, menjadi salah satu perusahaan yang memproduksi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Perusahaan memiliki fasilitas perakitan baterai di Klapanunggal, Bogor, dan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Sejumlah merek kendaraan listrik disebut sudah menggunakan baterai Gotion yang dirakit di Indonesia. Produk tersebut menggunakan teknologi Lithium Iron Phosphate (LFP), yang menjadi fokus Gotion untuk kebutuhan kendaraan listrik. Baterai kendaraan listrik lansiran Gotion Raihan Wiradibrata, R&D Engineer Gotion, mengatakan penggunaan sel dan baterai Gotion pada kendaraan listrik bergantung pada kebutuhan masing-masing pabrikan. "Ini sudah dipakai di VinFast Limo. Geely EX2 juga sudah pakai," ujar Raihan saat ditemui Kompas.com di ICE BSD, belum lama ini. Sejumlah merek gunakan baterai Gotion Selain VinFast Limo dan Geely EX2, Jaecoo J5 CKD juga telah menggunakan sel baterai Gotion. Termasuk beberapa jajaran produk Wuling. Menurut Raihan, penggunaan sel baterai pada setiap kendaraan dapat berbeda karena kebutuhan masing-masing produsen tidak selalu sama. "Sel kami tergantung OEM-nya mau gimana, maunya apa, sama B2B-nya gimana," katanya. Gotion sebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen. Gotion sebelumnya juga memasok komponen baterai untuk sejumlah merek kendaraan listrik di Indonesia, seperti DFSK, dan Neta. Selain mobil, perusahaan juga memiliki klien dari segmen motor listrik, termasuk Swap dan Volta. Namun, tidak semua model dari merek tersebut saat ini menggunakan baterai Gotion Indonesia. Raihan menjelaskan, sebagian produk Wuling kini menggunakan sel yang berasal langsung dari Gotion China atau memakai produk dari pemasok lain seperti CATL. "Wuling Air EV dulu itu (pakai Gotion) mulai sekitar 17 kWh. Tapi sekarang Wuling beberapa sudah enggak di kami, ada yang langsung dari Gotion China atau pakai CATL," ujarnya. Baterai kendaraan listrik lansiran Gotion TKDN baterai Gotion diklaim tembus 75 persen Meski sel baterai masih didatangkan dari luar negeri, Gotion menyebut tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) baterai yang diproduksi di Indonesia sudah cukup tinggi. Raihan mengatakan, saat ini Gotion belum memiliki fasilitas produksi sel baterai di Indonesia. Sel masih diimpor, sementara komponen lain seperti housing baterai sudah diproduksi di dalam negeri. "Kita enggak ada pabrik sel di sini, semua sel baterai masih diimpor. Kami memang fokus di LFP saja karena lebih aman juga. Hanya sel baterainya saja yang belum bisa lokalisasi," kata Raihan. Shi Guoyong, Presiden Direktur Wuling Motors menunjukkan proses perakitan kendaraan listrik pertama Wuling di Indonesia, Air ev, kepada Hou Fei, Vice President Gotion High-Tech & Chairman of Liuzhou Gotion Battery. Dengan mengaplikasikan ?Global Manufacturing System? (GMS), Wuling memastikan bahwa pabriknya mampu untuk mencapai efisiensi proses produksi dan menghasilkan produk berkualitas tinggi. Didukung oleh fasilitas yang dilengkapi dengan beragam teknologi modern, pabrik Wuling di Indonesia memiliki kompetensi untuk memproduksi tidak hanya mobil dengan mesin pembakaran internal, tetapi juga mobil listrik. “Tahun ini TKDN kita sudah bisa mencapai 75 persen, beberapa part elektronik seperti BMS sudah mulai diproduksi di Indonesia tahun ini,” ujarnya. Menurut dia, lokalisasi sel baterai juga memiliki tantangan tersendiri. Setiap produsen kendaraan memiliki kebutuhan berbeda, termasuk dimensi dan konfigurasi baterai. "Kami enggak ada yang satu untuk semua, tiap brand dan model bisa beda-beda mengikuti dimensi mereka," katanya.