Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap industri otomotif nasional. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang memicu blokade Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran tersebut. Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan, gangguan pada jalur logistik energi global dapat menimbulkan efek berantai pada berbagai sektor industri, termasuk otomotif di Indonesia. Pengisian stok BBM di wilayah Pertamina Jatimbalinus, Jumat (6/3/2026) Menurut dia, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak mentah paling vital di dunia. Ketika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di kawasan konflik, tetapi juga oleh negara lain yang bergantung pada stabilitas pasokan energi global. "Secara makro, jika keos ini berlangsung lebih dari 20 hari, maka potensi lonjakan harga minyak mentah Brent menuju angka ekstrem di atas 100 dollar AS. Bahkan, ke 120 dollar AS ke atas bisa terjadi," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Lonjakan harga minyak mentah tersebut, kata Yannes, berpotensi memicu tekanan tambahan pada perekonomian domestik. Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila diikuti dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. "Dan jika dipadukan dengan potensi pelemahan rupiah ke level Rp 17.000/dollar AS, menciptakan badai cost-push inflation yang berdampak besar pada Indonesia, walaupun kita jauh dari zona perang tersebut," kata Yannes. Lebih lanjut, Yannes menjelaskan bahwa industri otomotif nasional saat ini sangat terhubung dengan rantai pasok global atau global value chain. Oleh karena itu, setiap gangguan pada distribusi logistik internasional dapat langsung memengaruhi biaya produksi di dalam negeri. Ia menilai kenaikan biaya logistik, energi untuk proses manufaktur, serta potensi kelangkaan komponen impor dapat menambah tekanan bagi pelaku industri otomotif nasional. "Hal ini diprediksi berpotensi menaikkan biaya produksi lebih dari 5% yang jika naik lebih tinggi lagi berpotensi semakin menggerus margin laba pabrikan dan APM yang pada ujungnya memaksa kenaikan harga jual di tengah melemahnya daya beli domestik," ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang