Sistem keyless entry memang menawarkan kemudahan bagi pemilik kendaraan. Pengemudi cukup membawa smart key di dalam saku atau tas untuk membuka pintu dan menyalakan mesin tanpa perlu menggunakan anak kunci. Di balik kepraktisannya, sistem ini juga kerap dikaitkan dengan metode pencurian yang dikenal sebagai relay attack. Cara ini memanfaatkan perangkat khusus untuk menangkap dan meneruskan sinyal dari smart key ke mobil, sehingga kendaraan mengira kunci berada di dekatnya. Akibatnya, pintu dapat terbuka dan mesin bisa dinyalakan tanpa harus merusak kunci. Lantas, apakah metode tersebut benar-benar bisa dilakukan di Indonesia? Pemilik Komandan Key Raymond Lie mengatakan, relay attack memang ada dan sudah dikenal di sejumlah negara. Namun menurut dia, kasus tersebut belum menjadi ancaman yang umum terjadi di Indonesia. Ilustrasi kunci mobil Relay Attack Butuh Alat Khusus Raymond menjelaskan, sistem keyless bekerja dengan memancarkan sinyal antara smart key dan kendaraan. Dalam kondisi tertentu, sinyal tersebut memang dapat ditangkap menggunakan perangkat khusus. Meski demikian, ia menilai alat untuk melakukan relay attack tidak mudah diperoleh. "Memang ada alat yang bisa seperti itu. Cuma tidak dijual bebas dan harganya sangat mahal. Jadi kalau menurut saya maling di sini belum (menggunakan relay attack) ya. Kalau di luar emang sudah," ujar Raymond, saat ditemui di Jakarta Utara, Selasa (14/7/2026), Remote Murah Lebih Rentan Dibajak Selain relay attack, Raymond juga menjelaskan ada metode lain yang memanfaatkan sinyal remote, yakni dengan merekam kode yang dipancarkan saat tombol remote ditekan. Cara ini umumnya menyasar remote yang masih menggunakan sistem keamanan sederhana. "Jadi paling simpel itu biasanya justru karena keyless memancarkan sinyal. Jadi ketika kita mau pencet, itu ada alat dari jauh. Itu bisa," kata Raymond. Menurut dia, secara umum terdapat tiga jenis sistem kode pada remote kendaraan, yaitu fixed code, rolling code, dan encrypted code. Kunci mobil immobilizer Fixed Code Paling Mudah Diretas Raymond mengatakan, remote dengan sistem fixed code menjadi yang paling mudah dibajak karena selalu mengirimkan data yang sama setiap kali tombol ditekan. "Biasanya paling bisa ditembak itu yang data fiks," katanya. Sebaliknya, remote yang menggunakan rolling code maupun encrypted code memiliki tingkat keamanan lebih tinggi karena kode yang dikirim akan terus berubah atau sudah terenkripsi. Ia mencontohkan sistem keamanan yang digunakan merek alarm kendaraan Clifford. "Makanya zaman dulu ada Clifford, remot Clifford itu anti dibajak. Karena data mereka antara rolling atau encrypted. Jadi enggak bisa dibajak," ujar Raymond. Karena itu, ia mengimbau pemilik kendaraan tidak sembarangan menggunakan remote aksesori dengan sistem keamanan yang belum jelas. Remote yang masih menggunakan fixed code dinilai lebih rentan terhadap upaya pembajakan sinyal dibandingkan sistem rolling code atau encrypted yang kini banyak digunakan pada kendaraan modern.