VIVA Otomotif: logo Nissan Pemilik Nissan diminta lebih waspada terhadap potensi penipuan setelah terjadi kebocoran data besar-besaran yang melibatkan ribuan pelanggan. Insiden ini bermula dari serangan siber yang menimpa perusahaan perangkat lunak Amerika, Red Hat, yang sebelumnya dikontrak Nissan untuk menangani sistem manajemen pelanggan di salah satu jaringan penjualannya di Jepang. Nissan mengungkapkan Red Hat memberi pemberitahuan resmi terkait insiden ini pada 3 Oktober. Setelah dilakukan penelusuran, kebocoran dipastikan mencakup data pelanggan yang berada di bawah Nissan Fukuoka Sales Co. Namun, hingga saat ini belum ada indikasi data tersebut disalahgunakan. Meski begitu, Nissan tetap mengimbau pelanggan yang terdampak agar berhati-hati jika menerima panggilan mencurigakan, pesan tak dikenal, atau surat yang mengatasnamakan Nissan.Produsen mobil asal Jepang itu menegaskan insiden ini menjadi perhatian serius. Nissan menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap pihak ketiga atau vendor yang bekerja sama dengan mereka, sekaligus meningkatkan standar keamanan siber untuk mencegah kejadian serupa terulang. Mereka juga menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan yang muncul akibat kasus ini. Hingga kini Nissan belum memastikan apakah semua pelanggan yang terdampak akan dihubungi satu per satu. Namun perusahaan menyebutkan, kebocoran tampaknya terbatas pada pelanggan di Jepang. Artinya, konsumen di Amerika Serikat atau wilayah lain kemungkinan besar tidak terpengaruh. Kasus ini menambah daftar panjang kebocoran data di industri otomotif global. Di tengah makin terhubungnya kendaraan dan layanan digital pabrikan, risiko keamanan siber pun ikut meningkat. Karena itu, kewaspadaan konsumen menjadi penting, terutama jika tiba-tiba mendapat komunikasi mencurigakan yang berkaitan dengan data pribadi mereka.