Belakangan ini ramai pembahasan soal octane number (RON) pada bensin yang dianggap bisa mendongkrak tenaga kendaraan. Sehingga muncul tren menambahkan aditif ke bensin kualitas rendah, agar kualitasnya jadi lebih baik. Salah satu metode yang dianggap bisa menaikkan nilai oktan BBM adalah mempertemukan campuran logam tertentu dengan BBM, bisa di dalam tangki atau melalui saluran khusus sebelum masuk injektor. Logam tersebut diklaim dapat memecah senyawa BBM, sehingga kualitasnya menjadi lebih baik atau menaikkan nilai oktannya. Lantas, benarkah metode tersebut efektif menaikkan nilai oktan pada suatu BBM? Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Tim Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) meragukan mencampur logam tertentu dapat menaikkan nilai oktan BBM. “Kalau memang bisa memecah senyawa dalam bahan bakar, tentu sudah dipakai di kilang minyak, sehingga tidak perlu proses mahal dan rumit seperti destilasi, reforming, kraking, isomerisasi, hidrokraking dan sebagainya,” ucap Tri kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Tri mengatakan, senyawa dalam bahan bakar yang memiliki andil dalam penentuan nilai oktan adalah parafin, iso parafin, olefin, naftanik, dan aromatik. Sehingga, prosesnya tidak akan sesederhana mencampurkan logam dengan BBM. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Selain tidak efektif, menurut Tri, metode tersebut memiliki efek samping yang merugikan bagi kesehatan manusia dan mesin kendaraan itu sendiri. Berikut ini daftar zat berbahaya yang dihasilkan dari metode pencampuran BBM dengan logam tertentu: Tetraethyl Lead (Timbal), logam berat yang jika terhirup akan tinggal di paru-patu dan memicu kanker. Kalau sampai di otak menyebabkan autis. Ferrocene (Besi) mempercepat keausan cylinder liner. Methylcyclopentadienyl manganese tricarbonyl (MMT / Mangan) membuat busi cepat mati. Jadi, produk octane booster yang berupa logam khusus yang dimasukkan ke dalam BBM masih diragukan efektivitasnya. Sehingga, konsumen perlu mempertimbangkan sebelum membelinya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.